PEKANBARU, PARASRIAU.COM - Bank Indonesia (BI) menghadirkan kompetisi barista bertajuk Riau Ber-Coffee sebagai bagian dari rangkaian Karya Riau Bertuah (KRB) 2026 di Mal Living World Pekanbaru pada 30 Juni hingga 5 Juli 2026.
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya BI Riau dalam mendorong pengembangan UMKM sekaligus memperkenalkan kopi liberika sebagai komoditas unggulan Riau.
Kepala Tim Implementasi Kekda, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau, Hafidh Amrullah mengatakan Karya Riau Bertuah merupakan agenda tahunan BI yang berfokus pada pengembangan UMKM dan digitalisasi sistem pembayaran.
Selama enam hari penyelenggaraan, pengunjung dapat menikmati berbagai kegiatan mulai dari pameran UMKM sektor kuliner, wastra (fashion), kriya (craft), hingga Pojok Kopi yang menyajikan olahan kopi khas Riau di Pekanbaru, Selasa, 1/7/.
Salah satu agenda utama tahun ini adalah kompetisi Coffeetition, yakni perlombaan bagi para barista lokal untuk menyajikan racikan terbaik menggunakan kopi liberika Riau.
"Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari upaya kami memperkenalkan kopi liberika Riau kepada masyarakat luas. Setelah sebelumnya kami menggelar cupping kopi liberika di Dumai, kali ini kami ingin melihat bagaimana para barista lokal mampu mengolah kopi liberika menjadi minuman berkualitas," ujar lebih lanjut.
"Sebanyak 27 barista asal Riau mengikuti kompetisi tersebut. Jumlah peserta sengaja dibatasi agar pelaksanaan lomba berjalan efektif, meski jumlah pendaftar disebut jauh melebihi kuota," ucapnya.
Selain memperebutkan total hadiah Rp15 juta, para peserta juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas penyajian sekaligus memperkuat citra kopi liberika di tingkat yang lebih luas.
Tak hanya kompetisi, dalam KRB 2026, BI Riau juga menggelar talkshow mengenai pengembangan kopi liberika dengan menghadirkan komunitas Orang Kopi Riau dan pelaku usaha Kopi Liberika Excelsa Wonosalam dari Jombang, Jawa Timur.
Melalui diskusi tersebut, sebutnya, para pelaku kopi di Riau diajak membandingkan perkembangan industri kopi liberika di daerah lain dimana kopi liberika di Jombang telah memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi.
"Kalau di Riau harga kopi liberika masih di bawah Rp200 ribu per kilogram, di Wonosalam sudah bisa dijual mulai Rp500 ribu hingga Rp650 ribu per kilogram. Artinya nilai tambah produknya sudah sangat tinggi. Kami ingin pelaku kopi di Riau juga bisa menuju ke arah sana," katanya.
Menurut Hafidh, salah satu cara meningkatkan nilai jual kopi adalah melalui kompetisi. Kopi yang berhasil menjadi juara dalam berbagai ajang akan memiliki nilai branding yang lebih kuat sehingga berdampak pada peningkatan harga jual.
"Ketika kopi memenangkan kompetisi, produk itu memiliki nilai lebih di mata konsumen. Branding tersebut kemudian ikut mendorong kenaikan harga jual, sehingga memberikan nilai tambah bagi petani, pengolah, hingga industri kopi secara keseluruhan," tambahnya.
Melalui kegiatan Riau Ber-Coffee, BI berharap kopi liberika Riau semakin dikenal masyarakat, memiliki daya saing yang lebih tinggi, serta mampu meningkatkan kesejahteraan para pelaku usaha di sepanjang rantai industri kopi, mulai dari petani hingga pelaku UMKM.***

