Perdana, 26 Mahasiswa Indonesia Kuliah di Fakultas Kedokteran Al-Azhar Kairo
Cari Berita

Advertisement

settia

Perdana, 26 Mahasiswa Indonesia Kuliah di Fakultas Kedokteran Al-Azhar Kairo

Selasa, 14 Januari 2020



CAIRO, PARASRIAU.COM - Tahun ajaran 2019-2020 ini, sebanyak 26 mahasiswa asal Indonesia menempuh studi di Fakultas Kedokteran Universitas Al-Azhar Kairo. Mereka adalah mahasiswa perdana asal Indonesia yang terdiri dari 18 perempuan dan 8 laki-laki. Semuanya merupakan alumni Pondok Modern Gontor dan satu diantaranya alumni Pondok Modern Tazakka sepanjang sejarah 10 abad lebih universitas tersebut.


Umumnya, mahasiswa Indonesia bila menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar mengambil jurusan keagamaan. Berbeda dengan mahasiswa asal Malaysia, sejak beberapa tahun terakhir ratusan mahasiswanya masuk di kedokteran.

Untuk menempuh di Fakultas Kedokteran, maupun fakultas-fakultas sains lainnya, disyaratkan menggunakan ijazah yang telah disetarakan (akreditasi) oleh Al-Azhar untuk bidang sains. Seperti diketahui, Al-Azhar sebagai institusi menerbitkan penyetaraan ijazah untuk bidang adaby untuk ilmu-ilmu keislaman, dan ilmy untuk ilmu-ilmu sains dan teknologi seperti MIPA, kedokteran, farmasi, teknik, dan lain sebagainya.

"Alhamdulillah, beberapa pesantren telah mendapatkan penyetaraan itu dari Universitas Al-Azhar Kairo. Diantaranya Ponpes Gontor, Ponpes Darunnajah dan Ponpes Tazakka serta beberapa lainnya," ujar Ghifaria salah seorang mahasiswa penerima beasiswa Al-Azhar.

Dijelaskannya, menempuh studi kedokteran di Universitas Al-Azhar yang identik dengan khazanah keilmuan Islami yang berkembang di Mesir bagaikan menyelam sambil minum air. Sembari mempelajari ilmu kedokteran di Al-Azhar, ilmu agama pun didapatkan dari para masyayikh Azhar.

"Maka inilah yang seperti dikatakan salah seorang Trimurti Gontor, KH Imam Zarkasyi, 'Jadilah ulama yang intelek, bukan intelek yang tahu agama'. Karena menjadi dokter bukan sekadar menyembuhkan penyakit pasien. Lebih dari itu, dokter akan memberikan fatwa kepada pasien, maka dokter yang santri dan santri yang dokter adalah sebuah kebutuhan masa depan," harapnya.

"Jadi terngiang apa yang selalu disampaikan Kiai Anang di depan kami: "Jadilah santri yang dokter, dokter yang santri; jadilah santri yang pengusaha, pengusaha yang santri; jadilah santri yang jenderal, jenderal yang santri," ujarnya. 

Mengutip yang pernah disampaikan Pimpinan Pondok Modern Tazakka, KH. Anang Rikza Masyhadi, MA bahwa kaderisasi itu by designed, harus dirancang dan disiapkan betul kebutuhan pondok dan umat dalam 20 hingga 50 tahun mendatang. "Maka, perlu pemetaan kaderisasi dengan cermat dengan memperhatikan trend masa kini dan masa depan," ujar Kiai Anang.

Katanya, kaderisasi adalah bagian dari menyiapkan masa depan, para kader itulah yang nantinya akan melanjutkan estafet perjuangan dan meneruskan cita-cita pendiri Pondok dan umat. Maka, mendesain kaderisasi hakikatnya adalah sedang mendesain masa depan.

"InsyaAllah, 6 hingga 7 tahun mendatang, dua puluh enam dokter perdana alumni Al-Azhar Kairo akan segera berkiprah untuk Indonesia. Dan, Insya Allah akan disusul oleh mahasiswa-mahasiswi lainnya pada tahun-tahun mendatang," harapnya. rls