Naik 20,1 Persen, BKKBN Ajak Lintas Sektor Sinergi Turunkan Angka Stunting
Cari Berita

Advertisement

Naik 20,1 Persen, BKKBN Ajak Lintas Sektor Sinergi Turunkan Angka Stunting

Kamis, 24 Juli 2025

 

Kepala BKKBN Riau, Mhd Irzal saat memberikan sambutan dalam acara Rakerda BKKBN se propinsi Riau, Kamis (22/7) di Balai Serindit Pekanbaru

PEKANBARU, PARASRIAU.COM - Tingginya angka stunting di Propinsi Riau masih fokus bagi Kementerian Kependudukan dan Pembanguan Keluarga / BKKBN Perwakilan BKKBN Provinsi Riau hingga akhir tahun 2025. Hal ini menjadi pembahasan dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakerda) yang digelar oleh BKKBN Riau, Kamis (24/7) di Balai Serindit Pekanbaru. 


Demikian disampaikan oleh Kepala BKKBN Riau, Mhd Irza saat sambutan di acara Rakerda yang dihadiri oleh seluruh OPD di propinsi Riau. Penekanan Rakorda khususnya untuk stunting sehubungan dengan informasi yang menyebutkan terjadi peningkatkan di Riau berada pada angka 20,1 persen. 


"Berdasarkan data SSGI jumlah stunting di Riau meningkat drastis, satu sisi kan bahwa faktor yang menyebabkan stunting, kan banyak, multi ya, tidak hanya pada gizi ya, tapi juga perilaku juga. Nah ini, yang meningkatnya itu ada apa? Ya, itu perbandingannya, angka stunting 2023 angkanya 13,6. Terus pada SSGI 2024 itu berada di angka 20,1. Nah, akhirnya ada peningkatan sekitar 6,5 persen. Dan inilah peningkatan yang tertinggi di seluruh Indonesia," jelasnya.


Diakui, data itu belum termasuk dengan data dari tiga daerah di Riau. Jika dimasukkan maka akan tetap terjadi peningkatakan tetapi tidak signifikan.


"Dan itu, belum termasuk di Kabupaten Kampar, Kabupaten Indragiri Hilir dan juga Pelalawan. Kan 3 kabupaten belum masuk. Nah, kalau 3 kabupaten itu angkanya masuk dan rendah, mungkin kita tidak setinggi itu peningkatannya. Jadi, secara perperensi saja peningkatan," urainya.


Menurut Irzal, BKKBN Provinsi Riau terus berusaha menurunkan angka stunting yang ada. Ia menghimbau seluruh instansi baik pemerintah maupun swasta untuk ikut berperan dalam membantu menurunkan angka stunting. Dimulai dari level bawah hingga ke atas yakni pemerintah daerah. 


"Dan ini kita tetap berusaha, ya, dengan melakukan programnya Gerakan Orang Tuas Asuh Cegah Stunting. Jadi, kita berterimakasih dengan BASNAS. BASNAS sudah memberikan bantuan," ungkapnya.


Sebelumnya Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, (P3AP2KB) Provinsi Riau, Fariza mengatakan semua tahu bahwa untuk menuju Indonesia Emas 2045, diperlukan pondasi yang kuat. Pondasi itu bernama keluarga. Keluarga adalah tempat pertama anak-anak belajar, tumbuh, dan dibentuk karakternya. Keluarga yang kuat akan melahirkan sumber daya manusia yang unggul, produktif, dan berdaya saing.


"Namun hari ini, kita dihadapkan pada tantangan besar, Prevalensi stunting di Provinsi Riau meningkat drastis dari 13,6 persen pada 2023 menjadi 20,1 persen tahun 2024 merupakan kenaikan tertinggi secara nasional. Ini adalah alarm keras bagi kita semua. Bahwa pendekatan yang selama ini dijalankan belum menyatu, belum optimal, belum menyentuh akar persoalan," jelasnya.


Menurut Fariza, untuk menurunkan angka stunting bukan hanya soal perbaikan gizi atau pelayanan kesehatan. Tetapi menyangkut kualitas manusia secara utuh yaitu, Asupan yang sehat, Pola asuh yang tepat, Akses pendidikan, Kehidupan keluarga yang harmonis, Lingkungan yang mendukung.


"Oleh karena itu, kita harus mendorong pendekatan siklus kehidupan, mulai dari 1000 Hari Pertama Kehidupan, Lanjut keremaja yang sehat dan produktif, Sampai pada lansia yang tetap aktif dan berdaya. Inilah pendekatan yang dibawa oleh Program Bangga Kencana, dan inilah yang harus kita perkuat bersama," pungkasnya.(nie)