Lima Narasumber Bincangkan 'Cipang, Aku Pulang'
Cari Berita

Advertisement


Lima Narasumber Bincangkan 'Cipang, Aku Pulang'

Selasa, 13 April 2021

Penggagas dan pendiri Komunitas Seni Rumah Sunting, Kunni Masrohanti berbicara saat Bincang Literasi Konservasi.


PEKANBARU, PARASRIAU.COM - 'Cipang, Aku Pulang' menjadi tema menarik diperbincangkan dalam Literasi Konservasi yang ditaja Komunitas Seni Rumah Sunting. Kegiatan ini dipusatkan di Desa Cipang Kanan, Rokan IV Koto, Rokan Hulu, selama tiga hari dua malam, 9-11 April 2021. 


Lima narasumber mengupas secara luas tentang bentang alam dan budaya Cipang Kanan di bawah panduan moderator Siti Salmah. Sebelum perbincangan dimulai, panitia menampilkan beberapa pertunjukan seperti Tari Persembahan oleh gadis-gadis Cipang Kanan dan grup Rebana Cipang Kanan. 


Los pasar yang terletak di Dusun Kubang Buaya, jantung Desa Cipang Kanan ini tumpah rumah oleh masyarakat yang berdatangan dari semua dusun di desa tersebut. 


Perbincangan berjalan santai dan penuh khidmat. Masyarakat juga menyimak dengan serius, termasuk anak-anak. ''Membangun desa ini tidak bisa sendiri. Dengan adanya kegiatan Literasi Konservasi ini, Cipang Kanan sangat beruntung. Kita semua warga Cipang Kanan, mari manfaatkan kesempatan ini untuk belajar,'' kata Kepala Desa Cipang Kanan, Abadi yang juga menjadi narasumber. 


Selain Abadi, juga ada narasumber lain, yakni, Sa'danur bergelar Datuk Menari Sati selaku tokoh masyarakat, Arbi Tanjung selaku penggiat literasi  dari Sumbar, Jabrizal S Hut dari BPDASHL Indragiri Rokan (Inrok) dan Kunni Masrohanti pendiri dan pembina Komunitas Seni Rumah Sunting. 


Datuk Menaro Sati berbincang tentang budaya dan kearifan lokal yang masih berjalan, Jabrizal berbicara tentang program Rehabilitasi Hutan Lindung (RHL) di Cipang Kanan, Arbi Tanjung berbicara seputar kegiatan literasi dan Kunni berbicara tentang bagaimana seharusnya bersama-sama memberikan pemahaman kepada  masyarakat dalam mempertahankan bentang alam dan budaya di Cipang Kanan. 


''Kami di kota tidak punya hutan. Semua rumah di kota kami terbuat dari batu, tapi kami tak punya hutan  Bapak Ibu di Cipang Kanan masih banyak rumah dari kayu, tapi hutan masih utuh. Kami tidak punya sumber oksigen, bapak ibu di sini dikelilingi sumber oksigen yang segar, hutan yang rimbun. Kami menumpang hidup pada bapak dan ibu. Selagi hutan ini masih ada , kearifan lokal akan terus terjaga, begitu juga sebaliknya. Maka bapak ibu sesungguhnya penjaga Indonesia. Kami titip Cipang Kanan untuk anak cucu kita semua,'' kata Kunni saat bincang malam itu. 


Selain masyarakat, puluhan peserta Literasi juga mengikuti kegiatan ini. Mereka terdiri dari berbagai profesi, komunitas dan asal daerah. 


Peserta tersebut antara lain, Komunitas Ladang Raso Sumatera Barat (Arbi Tanjung dkk), Lenggok Media Rohul (Nuratika dkk), Gedau Production Pelalawan (Icamp Dompas dkk), Papala Padang Sawah Kampar Kiri (Kasmono dkk), Laskar Penggiat Ekowisata Riau (Gober dkk), Salmah Creative Writing (Siti Salmah), Ubaidillah Al Ansori (Redaktur Budaya Rakyat Sumbar), DR Hermawan An (dosen dan sastrawan), Union Adventure (Nanda), Jungle Ghost Riau (Dedy), Komunitas Menulis Kreatif Rokan Hulu (Suyatri dkk), SMPN 04 Ujung Batu Rohul (Kepsek Lisa Armis) dan masih banyak lainnya. Bahkan turut datang juga, Mamen, backpacker asal Palu, Sulawesi Tengah. 


Peserta yang berasal dari berbagai komunitas dan daerah ini rata-rata penulis, penggiat sastra, wisata, budaya, guru, pelajar dan kepala sekolah. Lengkap, dari usia dini sampai usia lebih setengah baya. 


Selama tiga hari dua malam itu, peserta diinapkan di satu rumah milik mertua Kepala Desa Cipang Kanan. Mereka berdiskusi dan mengikuti berbagai rangkaian kegiatan. Saat tiba di Desa Cipang Kanan dan turun mobil double kabin milik Inhutani yang mengantarkan mereka, peserta langsung disambut Kepala Desa, Abadi, dan segenap Datuk Ninik Mamak serta masyarakat Cipang Kanan. Malam harinya, mereka mengikuti kegiatan Literasi Konservasi di los pasar Dusun Kubang Buaya. 


Sabtu atau di hari kedua, peserta mengikuti perjalanan ke destinasi wisata Air Terjun Sarosah Tinggi yang terletak di Dusun Batas. Perjalanan yang panjang, berangkat pukul 10.00 dan kembali ke Kubang Buaya pukul 21.00 WIB. Selama peserta ke air terjun, sebagian panitia tinggal di desa dan  melakukan edukasi konservasi melalui seni khusus untuk anak-anak. 


Sabtu malam, digelar Panggung Konservasi. Berbagai seni ditampilkan, baik dari peserta maupun masyarakat desa di tiga dusun yang ada di desa tersebut, yakni Dusun Kubang Buaya, Kersik Putih dan Kampung Batas.  Ada seni tari, musik, lagu, sastra lisan marotik, silat, oguong, musikalisasi puisi dan pembacaan puisi. Los pasar yang berada di jantung Desa Cipang Kanan selama dua malam itu pun penuh, tumpah ruah. Masyarakat dari Desa lain juga berdatangan termasuk dari desa-desa Sumbar yang berada di perbatasan. 


''Desa Cipang Kanan ini desa terluar di Riau yang berbatasan langsung dengan Desa Rumbai, Kecamatan Mapat Tunggal, Sumbar. Maka, Literasi Konservasi yang kita laksanakan ini juga disaksikan masyarakat Sumbar yang ada di perbatasan itu,'' kata Kunni lagi. 


Kunni dan keluarga besar Rumah Sunting melaksanakan kegiatan ini tidak sendiri. Dukungan banyak pihak, kata Kunni, adalah hal utama yang menyebabkan kegiatan ini bisa terlaksana. 


''Ke Cipang Kanan ini sulit, jauh. Jalan buruk, sinyal susah, anak-anak banyak. Mereka juga perlu hiburan dan edukasi yang lebih tentang banyak hal, termasuk tentang pentingnya literasi konservasi yakni memahami dengan dalam tentang pentingnya menjaga alam dan budaya. Mereka ini pelakunya, pemiliknya dan penjaganya. Terjaga alam dan budaya Cipang Kanan, terjaga Riau, terjaga Indoneaia,'' beber Kunni. 


Kuni mengaku sangat berterimakasih Kepada Kepala Desa Cipang Kanan yang menyambut dan memfasilitasi kegiatan ini dari awal hingga akhir. Tentunya juga kepada masyarakat Cipang Kanan. Begitu juga kepada Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Kementerian LHK RI yang menfasilitasi transportasi sekaligus memberikan  edukasi tentang Rehabilitasi Hutan Lindung (RHL) saat diskusi di malam pertama di desa tersebut. 


''Kerja kolektif, kolaboratif ini yang paling penting. Rumah Sunting tidak bisa sampai ke Cipang Kanan, tidak bisa berbuat apa-apa tanpa dukungan banyak pihak, terutama Pak Kades Abadi yang semangat luar biasa. Saya salut, dan dia sosok yang layak dicontoh dalam upaya membangun desa yang berkarakter,'' kata Kunni Lagi. 


Kegiatan diakhiri dengan Ziarah Budaya ke rumah istri Raja Rokan Kedua Tuanku Ibrahim, yaitu Siti Soleha di Dusun Kersik Putih serta penanaman pohon kehidupan. Selama Ziarah Budaya, peserta disuguhi tarian dan musik tradisional Gondang Oguong. Saat itu juga peserta ikut menari bergembira ria sambil mengeluarkan uang sukarela untuk penari cilik tersebut. 


''Saya sangat bangga sekali karena Rumah Sunting memilih Cipang Kanan sebagai lokasi Literasi Konservasi. Semua ini terjadi bukan tiba-tiba. Kami memang intens berkomunikasi, bahkan sudah sejak lama sampai hari ini. Kami hanya berharap Literasi Konservasi jangan hanya sampai di sini. Datanglah kembali, pulanglah ke Cipang Kanan seperti tema yang dipilih Bu Kunni dan kawan-kawan. Kami menunggu untuk terus belajar, untuk kemajuan Cipang Kanan dan masyarakat di sini,'' kata Abadi diakhir perbincangan. **


Editor: M Ikhwan