Meski Diancam Militer, Warga Myanmar Tetap Gelar Aksi Menentang Kudeta
Cari Berita

Advertisement

target='_blank' title='Settia Blog'>settia

Meski Diancam Militer, Warga Myanmar Tetap Gelar Aksi Menentang Kudeta

Selasa, 09 Februari 2021

 



YANGON, PARASRIAU.COM - Para pengunjuk rasa kembali berkumpul di kota terbesar Myanmar, Yangon pada Selasa (9/2), mengabaikan ancaman pihak militer yang akan melakukan "tindakan" terhadap kerumunan besar.

Seperti dilansir dari Channel News Asia, Selasa (9/2/2021), di pusat kota San Chaung - di mana pertemuan-pertemuan saat ini dilarang - sejumlah guru berbaris di jalan utama, melambai memberi hormat tiga jari.


Kudeta militer pada 1 Februari lalu dan penahanan pemimpin sipil terpilih Aung San Suu Kyi telah menimbulkan aksi protes selama berhari-hari di seluruh negara berpenduduk 53 juta orang itu. Muncul gerakan pembangkangan sipil yang juga mempengaruhi pekerja di rumah sakit, sekolah dan kantor pemerintah.


Dalam pidato pertamanya setelah kudeta, pemimpin junta militer Min Aung Hlaing berjanji akan mengadakan pemilu. Ia juga mengulangi tuduhan militer atas kecurangan pemilu November 2020, yang dimenangkan secara telak oleh Partai Liga Demokrasi Nasional (NLD) yang dipimpin Suu Kyi.


"Kami akan terus berjuang," demikian pernyataan dari aktivis pemuda Maung Saungkha, yang menyerukan pembebasan tahanan politik dan 'kehancuran kediktatoran' serta penghapusan konstitusi yang memberi militer hak veto di parlemen.


Militer Myanmar memberlakukan larangan berkumpul lebih dari empat orang setelah puluhan ribu orang turun ke jalan-jalan di seluruh Myanmar dalam aksi demo menentang kudeta militer.


Kedutaan Besar Amerika Serikat mengatakan telah menerima laporan tentang pemberlakuan jam malam di dua kota yakni Yangon dan Mandalay. Jam malam diberlakukan mulai jam 8 malam sampai 4 pagi. (detik)


Editor: Anto Chaniago