KH. Imam Zarkasyi: Tanpa Perjuangan Kita akan Mati dalam Kehidupan
Cari Berita

Advertisement

target='_blank' title='Settia Blog'>settia

KH. Imam Zarkasyi: Tanpa Perjuangan Kita akan Mati dalam Kehidupan

Rabu, 12 Februari 2020


PARASRIAU.COM - KH. Imam Zarkasyi, salah satu pendiri Pesantren Darussalam Gontor Ponorogo, dikenal luas sebagai salah satu tokoh pendidikan terkemuka di Indonesia. Karya nyata pendidikannya telah dirasakan manfaatnya oleh jutaan orang. Banyak pemikiran dan nasehat berharga telah beliau sampaikan kepada para murid dan anak-anaknya.


Tahun 2019, terbit sebuah buku berjudul “Ajaran Kiai Gontor: 72 Wejangan Hidup K.H. Imam Zarkasyi”, ditulis oleh putra bungsunya, Muhammad Ridlo Zarkasyi. Melalui artikel berikut ini, kita merenungkan satu poin penting dari sejumlah nasehat KH Imam Zarkasyi, bahwa: “Hidup itu Perjuangan.”

“Hidup tanpa perjuangan bukan hidup namanya,”  begitu petuah penting KH Imam Zarkasyi. Selanjutnya, kita simak untaian nasehat beliau tentang hidup dan perjuangan:

“Innal hayaata aqiidatun wa jihaadun” (Sesungguhnya hidup itu keyakinan dan perjuangan), begitu pesan yang sering kita dengar. Hidup ini tak lain adalah perjuangan dan mempertahankan akidah. Hidup ini perjuangan.

Kita tidak bisa memilih antara berjuangan atau tidak berjuang. Selama kita ingin hidup, perjuangan itu mutlak dilakukan. Tanpa perjuangan kita akan mati dalam kehidupan.

Hanya saja, yang perlu kita bedakan adalah kepentingan siapa yang kita perjuangkan dan bagaimana kita memperjuangkannya. Sebagai orang pesantren, berjuanglah untuk kemaslahatan orang banyak. Jangan hanya berjuangan untuk kepentingan diri sendiri. Bondo, bahu, pikir. (harta, tenaga, pikiran) untuk kemaslahatan umat.

Kemanfaatan kita di dunia ini ditentukan dari cita-cita kita bersama orang banyak. Harga kita ditentukan oleh seberapa luas cita-cita kita, perjuangan kita tersebut.

Nilai kita diukur oleh seberapa banyak kepentingan umat yang kita perjuangkan. Satu orang yang memperjuangkan kepentingan seribu orang, nilainya akan sama dengan seribu orang itu. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang banyak.

Syarat untuk bisa memperjuangkan kepentingan orang banyak adalah selalu berpikir apa yang bisa saya berikan, bukan apa yang bisa saya ambil. Berjasalah, tapi jangan minta jasa.

Supaya nafas perjuangan kita panjang, yang perlu kita amalkan adalah keikhlasan. Hanya kepada Allah-lah kita menggantungkan harapan dari perjuangan kita.”

Pesan KH Imam Zarkasyi – bahwa hidup adalah perjuangan – penting untuk kita renungkan. Ini juga salah satu nasehat Luqman al-Hakim kepada anaknya: “Wahai anakku, dirikanlah shalat, dan tegakkanlah kebaikan serta cegahlah kemunkaran. (QS 31:17).

Sangat berbahaya, jika seorang, umat atau bangsa telah padam api perjuangan dalam dirinya. Pada 17 Agustus 1951, tokoh integrasi NKRI, Mohammad Natsir menulis artikel berjudul “Jangan Berhenti Tangan Mendayung, Nanti Arus Membawa Hanyut.”

Melalui artikelnya ini, Natsir mengkhawatirkan kondisi manusia Indonesia yang mulai dijangkiti penyakit bakhil; bakhil keringat, bakhil waktu dan merajalela sifat serakah. Orang bekerja tidak sepenuh hati lagi. Orang sudah keberatan memberikan keringatnya sekalipun untuk tugasnya sendiri.

Kata Mohammad Natsir : “Orang sudah mencari untuk dirinya sendiri, bukan mencari cita-cita yang diluar dirinya. Lampu cita-citanya sudah padam kehabisan minyak, programnya sudah tamat, tak tahu lagi apa yang akan dibuat!”

Untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat memerlukan perjuangan yang berat. Nabi kita, Muhammad saw, memperingatkan, bahwa sorga itu diselimuti hal-hal yang sifatnya tidak disukai manusia. Sebaliknya, neraka diselimuti hal-hal yang menyenangkan syahwat manusia.

Karena itu, sangatlah tidak sehat kondisinya, jika kehidupan lembaga, organisasi, atau kehidupan berbangsa dan bernegara, sudah didominasi oleh budaya pragmatisme dan materialisme.  Rakyat diajarkan untuk menghitung-hitung pengorbanannya dengan imbalan di dunia. Tidak tampak lagi keikhlasan dalam perjuangan.

Lebih memilukan ketika para pendidik didorong untuk meninggalkan prinsip mengajar sebagai sebuah perjuangan. Prinsipnya diganti: mengajar adalah kerja; dan kerja harus ada imbalan materinya. Guru bukan lagi dianggap atau menganggap dirinya sebagai pejuang, sebagai mujahid intelektual; tetapi guru ditempatkan atau menempatkan diri sebagai ”tukang ngajar bayaran!”

Maka, dari hari kehari, semakin tak terdengar lagi untaian kata-kata indah dalam Hymne Guru: ”Engkau bagai pelita dalam kegelapan; engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan; engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa.”

Kini, kehidupan masyarakat kita, seolah-olah dipenuhi dengan nuansa pemujaan materi secara berlebihan. Semua dianggap harus ada imbalannya di dunia ini, berupa materi. Dunia politik pun diwarnai dengan perebutan jabatan secara berlebihan. Konon katanya, begitu selesai pesta pilihan lurah atau kepala desa, sekian banyak anggota Timses sudah mengantri untuk mendapat jabatan di berbagai struktur kelurahan atau badan usaha milik desa.     

Perjuangan memerlukan nafas panjang.  Selain keikhlasan, sebagai syarat agar panjang nafas perjuangan kita,  KH Imam Zarkasyi juga memberikan resep lain, yakni: “Jangan berkecil hati menghadapi masa depan!”

Kata beliau, “Dalam hidup ini akan selalu ada masalah, ujian dan cobaan. Jangan menghindari masalah jika harus terjadi. Jangan meninggalkan masalah jika harus dihadapi. Selesaikanlah masalah, ujian, dan cobaan itu dengan tenang.

Nah, berbesar hati ketika menghadapi masalah dan cobaan hidup, itulah kunci kesuksesan masa depan. Ingatlah bahwa masa depanmu masih cerah. Datangnya masalah justru sebetulnya untuk mendidik kita, melatih kesabaran kita, menuntut kesungguhan kita, dan untuk memperkuat karakter kita. Orang bijak mengatakan, “Orang lemah dihancurkan oleh masalah, tetapi orang yang kuat dicerahkan oleh masalah.”

Demikian salah satu nasehat berharga dari KH Imam Zarkasyi. Semoga bisa kita amalkan. Amin. (Depok, 21 Januari 2020). pr2

Penulis: Dr. Adian Husaini dan dilansir dari www.adianhusaini.net