Dikepung Asap Kiriman dari Jambi dan Sumsel, Kualitas Udara di Pekanbaru Berbahaya -->
Cari Berita

Advertisement

Dikepung Asap Kiriman dari Jambi dan Sumsel, Kualitas Udara di Pekanbaru Berbahaya

Rabu, 07 Oktober 2026

Dikepung Asap Kiriman dari Jambi dan Sumsel,  Kualitas Udara di Pekanbaru Berbahaya

PEKANBARU, PARASRIAU.COM - Kota Pekanbaru dan sejumlah wilayah di Provinsi Riau kembali dikepung kabut asap pekat. Kondisi tersebut terjadi meski wilayah Riau dilaporkan nihil kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kabut asap yang menyelimuti Kota Pekanbaru merupakan asap kiriman dari provinsi tetangga, terutama Sumatera Selatan (Sumsel) dan Jambi.

Kepala BPBD Riau, M. Edy Afrizal menegaskan bahwa hingga Senin (5/10) wilayah Riau sudah bersih dari titik api besar.

"Riau saat ini sudah nihil karhutla. Asap yang ada merupakan asap kiriman, karena di Riau nihil titik api. Sementara di Sumsel banyak dilaporkan titik api," ujarnya.

Kondisi tersebut diperkuat Kalaksa BPBD Pelalawan, Zulfan. Ia menyebarkan kabut asap pekat dari Jambi dan Sumsel membawa angin hingga masuk dan menumpuk di wilayah Riau.

Jambi dan Sumsel Jadi Sumber Asap

Berdasarkan data yang disampaikan, sumber utama kabut asap saat ini berasal dari luar Riau.

Sumatera Selatan dilaporkan memiliki 297 hotspot, sedangkan Jambi menjadi salah satu wilayah dengan jumlah hotspot tinggi, yakni mencapai 320 titik.

Kluster api di Jambi tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Muaro Jambi dan Batanghari.

Sementara kontribusi sumber lokal Riau hanya sekitar 5 persen. Tidak ditemukan kebakaran aktif di Kota Pekanbaru yang saat ini mencatatkan zero hotspot.

Sekda Pekanbaru, Zulhelmi Arifin, memastikan tidak ada titik api di wilayah Kota Pekanbaru.

“Titik api itu tidak ada di Pekanbaru ini. Jadi angin arahnya masih sama dari selatan menuju ke utara,” jelasnya.

Di wilayah Riau secara keseluruhan, masih terdeteksi tujuh titik panas kecil yang tidak dikategorikan sebagai kebakaran besar. Apalagi, satu titik api yang terdeteksi di Pelalawan telah dikonfirmasi bukan berasal dari kebakaran lahan, melainkan asap pabrik.

Angin Bawa Asap dari Selatan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, menumpuknya asap di Pekanbaru dipengaruhi pola angin Monsun Selatan-Tenggara.

Angin tersebut bergerak dengan kecepatan sekitar 10–20 kilometer per jam dari arah tenggara menuju barat laut-utara.

Pergerakan angin itu membawa asap dari wilayah Sumsel dan Jambi menuju Riau. Segera kemudian menumpuk di sejumlah wilayah.

Satelit Citra Himawari-9 BMKG juga mendeteksi sebaran asap yang meluas ke sejumlah wilayah, termasuk Riau, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi hingga Sumatera Selatan.

Kualitas Masuk Tingkat Berbahaya

Kondisi kabut asap tersebut mulai memberikan dampak terhadap aktivitas dan kesehatan masyarakat.

Aktivis lingkungan hidup Johny Setiawan Mundung menyebut kepungan asap pekat membawa dampak signifikan bagi warga Pekanbaru dan sekitarnya.

Salah satunya terlihat dari memburuknya kualitas udara. Kadar partikulat PM2.5 dilaporkan mencapai 298,7 µg/m³, sementara AQI atau indeks kualitas udara menyentuh angka 263 dan masuk kategori berbahaya.

Dampak lainnya terjadi pada sektor transportasi udara. Jarak pandang di Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru dilaporkan turun hingga di bawah 500 meter.

Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah penerbangan mengalami penundaan maupun pergeseran rute.

Sekolah Dialihkan ke Pembelajaran Jarak Jauh

Johny juga menyarankan agar kegiatan belajar mengajar di wilayah terdampak dialihkan sementara menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara berani.

Kebijakan tersebut dinilai perlu dilakukan untuk mengurangi paparan asap terhadap pelajar di tengah memburuknya kualitas udara.

Selain mengganggu aktivitas masyarakat, kabut asap juga mulai berdampak terhadap kesehatan warga.

“Krisis Kesehatan: Sebanyak 12.000 warga dilaporkan mulai terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), dengan keluhan mata perih dan sesak napas.”

Warga Diimbau Batasi Aktivitas di Luar Rumah

Menghadapi kondisi tersebut, Johny mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan apabila tidak memiliki kepentingan yang mendesak.

Bagi warga yang harus keluar rumah, ia menyarankan penggunaan masker N95 yang dinilai lebih efektif menyaring partikel berbahaya dibandingkan masker kain.

Masyarakat juga diminta menutup keseluruhan luas rumah serta memperbanyak konsumsi air putih.

Sementara itu, BMKG memperkirakan hujan dengan intensitas merata berpotensi turun dalam dua hari ke depan.

Hujan tersebut diharapkan dapat membantu meluruhkan dan mengurangi kepungan asap pekat yang saat ini menyelamatkan sejumlah wilayah di Riau.***