BANYAK orang mengira pernikahan gagal karena cinta yang menipis. Seolah-olah cinta adalah satu-satunya bahan bakar rumah tangga. Ketika api itu meredup, orang buru-buru menyimpulkan: “Sudah tidak cinta lagi.”
Padahal, dalam banyak kasus, cinta masih ada, hanya saja ia kalah oleh hal lain yang sering luput disadari.
Saat masih pacaran, hubungan dibangun terutama oleh perasaan. Dua hati saling mendekat, saling menguatkan, dan ketika rasa itu tidak cocok lagi, perpisahan bisa dilakukan tanpa banyak beban.
Namun pernikahan bekerja dengan logika yang berbeda. Ia bukan sekadar penyatuan dua hati, melainkan juga dua pikiran, dua cara pandang, dua kebiasaan hidup, bahkan dua latar keluarga yang membawa pengaruh dan bisikannya masing-masing.
Di sinilah banyak orang baik justru kalah di rumah tangga. Bukan karena mereka tidak mencintai, tetapi karena mereka mengira cinta saja sudah cukup.
Padahal setelah akad, yang diuji bukan hanya rasa, melainkan kemampuan menyelaraskan akal dan hati dalam kenyataan hidup sehari hari.
Pertengkaran dalam rumah tangga sering kali bukan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Banyak konflik lahir dari kelelahan emosi, tekanan pikiran dan ekspektasi yang tidak pernah benar-benar dibicarakan.
Ada kalanya sebuah pertengkaran memang membutuhkan jawaban. Tapi ada pula saat-saat dimana diam justru menjadi bentuk kebijaksanaan memberi ruang agar emosi mereda dan akal kembali mengambil peran.
Para ulama klasik sejak lama mengingatkan bahwa pernikahan adalah ladang kesabaran.
Imam Al-Ghazali menyebut rumah tangga sebagai tempat latihan akhlak: menahan diri, memaafkan dan belajar memahami orang lain apa adanya. Dalam kacamata ini, sabar bukan tanda kalah, melainkan tanda kedewasaan jiwa.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم sendiri memberi teladan yang sangat manusiawi. Beliau mendengarkan, bersabar dan tidak menjadikan emosi sebagai dasar keputusan.
Ketika terjadi ketegangan rumah tangga, beliau tidak tergesa-gesa memutuskan, tetapi memberi waktu, memberi jarak dan tetap menjaga adab.
Ini menunjukkan bahwa ketenangan sering kali lebih menyelesaikan masalah dari pada ledakan kata-kata.
Ada rumah tangga yang bertahan sampai akhir hayat dan sering dipuji sebagai “keluarga hebat”.
Padahal sejatinya, mereka bukan tanpa masalah. Mereka hanya telah sampai pada satu titik penting: mampu menyelaraskan hati dan pikiran serta menempatkan kesabaran sebagai bentuk ketaatan.
Ketaatan kepada pasangan dan pada akhirnya, ketaatan kepada Allah.
Sebaliknya, ketika sebuah pernikahan harus berakhir, itu pun tidak selalu berarti kegagalan mutlak. Bisa jadi itulah batas takdir yang Allah tetapkan.
Tidak setiap perpisahan adalah kesalahan, dan tidak setiap keputusan pahit adalah sia-sia.
Dalam iman, selalu ada ruang untuk belajar, memperbaiki diri, dan melanjutkan hidup dengan lebih jujur terhadap diri sendiri.
Bahagia, pada akhirnya, bukan ukuran orang lain. Ia adalah sesuatu yang dirasakan dan dipertanggungjawabkan secara pribadi di hadapan Allah.
Karena itu, menilai rumah tangga orang lain dari luar sering kali menipu. Yang benar-benar tahu pahit dan manisnya hanya mereka yang menjalaninya.
Maka mungkin sudah saatnya kita berhenti menyederhanakan masalah rumah tangga dengan satu kalimat: “kurang cinta”.
Pernikahan jauh lebih kompleks dari itu. Ia adalah perjalanan panjang menyatukan hati dan pikiran, jatuh bangun dalam kesabaran, dan terus belajar taat, bahkan ketika keadaan tidak selalu sesuai harapan.
Dan di situlah makna pernikahan diuji: bukan seberapa besar cinta di awal, tetapi seberapa jauh kesediaan untuk bertumbuh dalam ketaatan.***
F. Batigol, Penggelitik Nurani

