PEKANBARU, PARASRIAU.COM - Menindaklanjuti keputusan yang telah ditetapkan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah bahwa 1 Ramadhan 1447 H ditetapkan pada 18 Februari 2026.
Hal ini disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Riau, Imron Rosyadi saat pertemuan dengan wartawan, Kamis (12/2) di Ruang Rapat Kampus UMRI Pekanbaru.
Dalam pertemuan tersebut juga di hadiri oleh Ketua Badan Pembina Harian UMRI, Muhammad Nazir, Ketua Majelis Tarjih dan Tadjid PW Muhammadiyah Riau Agustiar, Wakil Rektor III UMRI, Jufrizal dan Kepala Humas, Keprotokolan dan Hukum UMRI, Anwar Siregar.
Dijelaskan Imron bahwa selain penetapan Ramadhan, Muhammadiyah juga telah menetapkan Syawal dan Zulhijah 1447 H.
Berdasarkan Maklumat PP Muhammadiyah, Nomor: 2/MLM/I.0/E/2025, tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadhan, Syawal dan Zulhijah 1447 Hijriah/2026 Masehi, maka 1 Ramadhan jatuh pada 18 Februari 2026 mendatang, 1 Syawal yakni 20 Maret 2026, Hari Arafah pada 26 Mei 2026 dan Idul Adha 27 Mei 2026.
Penetapan tersebut berlaku untuk seluruh persyarikatan Muhammadiyah di seluruh Tanah Air, termasuk Pekanbaru.
"Penetapan 1 Ramadhan, 1 Syawal, Hari Arafah dan Idul Adha 1447 H itu dilakukan dengan menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal, yaitu perhitungan astronomis yang menetapkan awal bulan Hijriah saat matahari terbenam lebih dulu daripada bulan, selama hilal sudah di atas ufuk. Kini, Muhammadiyah juga menerapkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) untuk keseragaman penanggalan," ujar Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Riau, Dr Imron Rosyadi MH dalam jumpa persnya, Kamis (12/02/26).
Sementara itu, Wakil Rektor III Umri, Prof Dr H Jufrizal Syahri mengatakan, satu bulan penuh selama Bulan Suci Ramadhan 1447 H nanti, Umri juga menyelenggarakan kegiatan Ramadhan Ceria untuk seluruh civitas akademika.
Ramadhan Ceria itu sendiri mengambil tema Ramadhan Bersama, Harmoni Ilmu Meraih Taqwa.Menurut Jufrizal dari Ramadhan Ceria tersebut, beragam giat keagamaan pun akan dilaksanakan, mulai dari Tarhib Ramadhan 1447 H, Sholat Tarawih Berjamaah, Tahsin Al-Quran bagi Dosen dan Tenaga Kependidikan, Lomba Kreativitas Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) Antar Unit Kerja, Lomba Musabaqah Hifzil Quran (MHQ) Mahasiswa Tingkat Internasional, Tasmi Akbar Mahasiswa Tahfidz Universitas Muhammadiyah Riau serta Tabligh Akbar dan Penyerahan 1.500 Santunan Dhuafa.
"Ramadhan tahun ini harus memberikan dampak positif tidak hanya untuk civitas akademika Umri tapi juga terhadap masyarakat sekitar. Puncaknya nanti di tanggal 13 Maret, kita akan mengundang tokoh nasional dan tokoh keagamaan untuk mengadakan Tabligh Akbar serta pemberian santunan kepada 1.500 kaum dhuafa," tuturnya.
Tak hanya itu, sambung Jufrizal, di Bulan Suci Ramadhan tersebut, seluruh unit kerja juga diwajibkan untuk mengkhatamkan Al-quran minimal dua kali.
Hal itu bertujuan untuk semakin meningkatkan keimanan dan ketaqwaan civitas akademika Umri kepada Dzat Yang Maha Esa, Allah SWT. Rektor bahkan memastikan akan memberikan reward bagi siapapun yang mengkhatamkan Kalamullah tersebut lebih dari dua kali selama Bulan Suci Ramadhan 1447 H nanti.
"Pak Rektor juga berpesan setiap unit harus mengkhatamkan Al-Quran minimal dua kali selama sebulan penuh di Ramadhan 1447 H nanti. Bagi yang khatam lebih dari dua kali, akan diberikan reward. Mudah-mudahan Ramadhan 1447 H ini bisa kita jalani dengan penuh ketaqwaan kepada Allah SWT," sebutnya.
Di lokasi yang sama, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Umri, Dr H M Nazir menuturkan, setiap tahunnya, awal Ramadhan, Syawal dan Zulhijah ditetapkan langsung oleh pimpinan pusat Muhammadiyah.
Jika pun ada perbedaan penetapan hari dan tanggal dengan keputusan pemerintah, hal itu bukanlah suatu masalah. Apalagi masyarakat juga bebas memilih, mengikuti ketetapan dari pemerintah atau Muhammadiyah.
"Yang terpenting adalah bagaimana amal-amal Ramadhan itu dilaksanakan sebaik-baiknya dan sekhusuk-khusuknya," tutupnya. pr1

