Tingkatan Kualitas Produksi, Dosen Faperta UIR Berikan Penyuluhan kepada Pembudidaya Manggot
Cari Berita

Advertisement

Tingkatan Kualitas Produksi, Dosen Faperta UIR Berikan Penyuluhan kepada Pembudidaya Manggot

Senin, 25 Desember 2023

Tingkatan Kualitas Produksi, Dosen Faperta UIR Berikan Penyuluhan kepada Pembudidaya Manggot


PEKANBARU, PARASRIAU.COM - Sejumlah dosen Faperta UIR melakukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berupa penyuluhan bagi peternak maggot (lalat hitam) di Pekanbaru. 


Kegiatan ini untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi maggot yang sudah ada. Lokasi pengabdian dilakukan di unit usaha budidaya maggot milik Hamid yang berlokasi di Pekanbaru pada Desember 2023.


Para dosen tersebut adalah Ir. T. Iskandar Johan., M.Si dengan judul pengabdian, 'Potensi Kombinasi Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga Terhadap Produksi Maggot yang Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan.'

Ir. Fakhrunnas MA Jabbar., M.I.Kom tentang Pendayagunaan Maggot sebagai Pakan Alternatif Alami Budidaya Ikan Bernutrisi Tinggi dan Ramah Lingkungan. Sedangkan topik penyuluhan Muhammad Hasby, S.Pi., M.Si tentang Optimalisasi Pemanfaatan Limbah Organik Perkotaan Terhadap Peningkatan Produksi Maggot sebagai Pakan Alternatif dalam Pengembangan Budidaya Perikanan Secara Intensif. Selain itu ada pula anggota tim terdiri atas  kalangan dosen di antaranya Ir. Tibrani., M.Si, Subhan Arridho, SP, MP, Sri Mulyani, SP., M.Si, Ilma Satriana Dewi, SP., M.Si dan sejumlah mahasiswa.


T. Iskandar Johan menjelaskan latar belakang penyuluhan di mana limbah sampah baik organik maupun anorganik merupakan  bahan yang terbuang atau sengaja dibuang yang berasal dan hasil aktivitas manusia maupun alam yang belum memiliki nilai ekonomis. Sampah sering kali dijumpai di semua tempat di perkotaan, baik itu sampah yang bersumber dari Rumah Tangga, Pertanian, Perkantoran, Perusahaan, Rumah Sakit, Pasar, dll. Sampah dapat menimbulkan berbagai dampak negatif pada lingkungan dan kesehatan.   


"Dampak langsung dari penanganan sampah yang kurang bijaksana diantaranya adalah berbagai penyakit menular maupun penyakit kulit serta gangguan pernafasan, sedangkan dampak tidak langsungnya diantaranya adalah bahaya banjir yang disebabkan oleh terhambatnya arus air di sungai karena terhalang timbunan sampah yang dibuang ke sungai. Permasalahan pada kegiatan pengumpulan sampah seperti banyaknya timbunan sampah yang terkumpul tapi tidak tertangani (diangkut/ditanam) sehingga pada saat sampah tersebut menjadi terdekomposisi dan menimbulkan bau yang akan mengganggu pernafasan dan mengundang lalat yang merupakan pembawa dari berbagai jenis penyakit," kata mantan WR III dan mantan Dekan Faperta UIR ini.


Sementara Fakhrunnas MA Jabbar menambahkan, pemanfaatan limbah sebagai media untuk pembuatan pakan alami ikan budidaya misalnya bisa dilakukan karena pakan menjadi salah satu komponen penentu keberhasilan dalam melakukan kegiatan budidaya perikanan. Mahalnya harga pakan hari ini juga menjadi suatu permasalahan yang dirasakan oleh para pembudidaya ikan, semakin tinggi protein pakan ikan tersebut maka semakin mahal pula harga pakannya. 


Selanjutnya, Fakhrunnas  mengatakan salah satu cara untuk mengurangi besarnya biaya pakan adalah dengan menambahkan pakan alternatif lain yang mempunyai kandungan protein tidak berbeda jauh. Dengan cara membuat pakan sendiri dengan menggunakan pakan alternatif yakni maggot, agar biaya produksi pakan dapat ditekan karena maggot dapat menguntungkan karena dapat tumbuh dari sampah dan kotoran yang sekaligus dapat meningkatkan nilai recycle sampah organik. 


"Budidaya maggot dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan limbah organik seperti limbah sayur-sayuran, buah-buahan, kotoran ternak dan ampas hasil olahan. Pertumbuhan dan produksi maggot dapat dilakukan dengan pemberian nutrisi tinggi yang mudah ditemukan dari limbah-limbah organik," ujar Fakhrunnas.


Selanjutnya Muhammad Hasby menambahkan, hasil budidaya maggot dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk menambah pendapatan keluarga dari hasil budidaya maggot tersebut. Dengan demikian kegiatan budidaya maggot dengan pemanfaatan limbah organik sampah ini selain melestarikan lingkungan perairan juga dapat membantu pemerintah dalam persoalan sampah di pekanbaru. 


Menurut Hasby, budidaya maggot dapat mengoptimalkan pemanfaatan limbah sampah organik,  melestarikan perairan umum daratan (sungai) atau kolam dengan melakukan kegiatan budidaya ikan secara intensif serta membuka peluang usaha mata pencaharian alternatif, melalui pembuatan media budidaya maggot. 


"Maggot dapat dimanfaatkan setelah dipelihara selama dua minggu untuk pakan ikan budidaya sekitar tiga bulan pemeliharaan. Produksi ikan budidaya dapat dimanfaatkan untuk konsumsi keluarga dan dijual sebagai (pendapatan tambahan) masyarakat," kata Hasby.


Petani Budidaya Maggot, Hamid (55 tahun)  menceritakan awal usaha budidaya maggot ini. Di sebuah bangunan sederhana berukuran 10x15 meter terdapat 12 petak biopon  berukuran 1x2x0,5 m yang menjadi media budidaya maggot. Sedangkan media pembiakan maggot berupa kandang berukuran 2x3x2 meter yang berlokasi sekitar 15 meter dari bangunan budidaya.


"Induk maggot berupa Lalat hitam menghasilkan pupa seberat 2-4 kg per 3 hari dibiarkan  dalam kandang selama 14 hari sampai menghasilkan telur yang dipanen," cerita Hamid.


Harga pupa sebesar Rp. 80.000 per kg. Sedangkan harga jual telur sebesar Rp. 7.000 per gram (Rp. 7 juta per kg).


Telur maggot sebanyak 15 gram dibawa ke tempat penetasan  dalam petakan kecil berukuran 20cmx40 cm hingga menghasilkan baby maggot selama 6 hari yang ditempatkan di dalam bangunan budidaya. Media tempat telur maggot berupa limbah bungkil kelapa sawit. Makanan yang diberikan berupa pellet ikan.


Menurut Hamid, produksi maggot yang digonseng sekitar setengah jam rata-rata sebulan sebanyak 1,5 ton dengan harga jual Rp. 80.000 per kg.


Sementara Zainur, petani budidaya ikan di Desa Danau Bingkuang, Kampar yang menjadi pelanggan maggot milik Hamid merasakan 50 persen  penghematan penggunaan maggot sebagai pakan ikan lele peliharaannya dibanding pellet.


Zainur memiliki 13 bioflok berisi benih ikan lele. Kebutuhan maggot untuk pakan lele per hari seberat 45 kg. Harga jual lele usia panen sebesar Rp. 24.000/ kg. (*/pr2)