Sekolah Lansia, BKKBN Riau Pertama Kali Mewisuda 30 Lansia BKL Al Ikhwaniyah
Cari Berita

Advertisement

Sekolah Lansia, BKKBN Riau Pertama Kali Mewisuda 30 Lansia BKL Al Ikhwaniyah

Rabu, 22 November 2023

Sekolah Lansia, BKKBN Riau Pertama Kali Mewisuda 30 Lansia BKL Al Ikhwaniyah 


PEKANBARU, PARASRIAU.COM - Pasca dibukannya sekolah lansia pada Agustus lalu, untuk yang pertama kalinya Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Riau mewisuda sebanyak 30 orang siswa lansia dari Kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) Al Ikhwaniyah, Rabu (22/11) di Pekanbaru. 


Prosesi Wisuda ini merupakan wisuda pertama di Riau, yang diinisiasi BKKBN untuk mewujudkan lansia yang sehat, tangguh, produktif,  sejahtera dan dapat diberdayakan, serta berperan dalam kegiatan pembangunan. 



Proses wisuda langsung dilakukan oleh Sekretaris Utama BKKBN RI, Tavif Agus Rayanto, didampingi Ketua Umum IPADI, Sudibyo Alimoeso, Kepala DP3AKB Riau Fariza, Kepala Dinas Kesehatan Riau, Zainal Arifin, dan Kepala Perwakilan BKKBN Riau, Mardalena Wati Yulia.


Dikatakan Kepala Perwakilan BKKBN Riau, Mardalena Wati Yulia bahwa kegiatan wisuda lansia ini merupakan kegiatan wisuda pertama di Provinsi Riau, setelah dilaksanakan kegiatan sekolah lansia sebanyak 11 kali pertemuan dan ini merupakan kegiatan puncak sebagai sekolah lansia setara standar 1 (S1). 


"Pembentukan sekolah lansia Al Ikhwaniyah ini tidak lepas dari kooordinasi dan kolaborasi antar kader BKL Al Ikhwaniyah, BKKBN, Disdalduk KB, Camat, Lurah dan Akademisi dari Universitas Muhammadiyah dan Poltekkes Kemenkes Riau. Dimana disekolah ini diikuti oleh lansia yang masih potensial didalam keluarga dan masyarakat. Sehingga keluaragan dari sekolah lansia ini nantinya diharapkan menjadi pribadi yang sehat, mandiri, aktif, produktif dan bermartabat (smart)," ujar Mardalena. 


Dijelaskannya, sekolah lansia ini merupakan program baru pemerintah yang menjadi wadah bagi penduduk lanjut usia untuk mendapatkan pendidikan non formal dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial. 


Dengan mengimplementasi 7 dimensi lansia yakni dimensi spritual, dimensi fisik, dimensi emosional, dimensi intelektual, dimensi sosial kemasyarakatan, dimensi profesional vokasional dan dimensi lingkungan. 


"Melalaui sekolah lansia ini penduduk usia lanjut mendapatkan berbagai pendidikan dan pelatihan, tidak hanya dari aspek kesehatan, tetapi juga aspek lain yang disebut 7 dimensi lansia tersebut," jelasnya. 


Sementara itu, usai mewisuda kepada wartawan Taviv mengatakan, konteks usia seseorang pasti akan melewati proses menua, semakin banyak usia tua dan semakin produktif, ini sejalan dengan usia harapan hidup. 


Oleh sebab itu, katanya, melalui sekolah lansia ini diharapkan bisa memberikan harapan menjadi lansia yang tangguh, mandiri dan berdikari dan tidak menjadi beban bagi negara tetapi bisa berkontribusi bagi pembangunan. 


"Atas dasar itulah, makanya sekolah ini dibuat untuk menciptakan orang tua yang hebat," papar Tavif. 


Tavif juga menambahkan bahwa adanya sekolah lansia ini juga menjadi salah satu program pemerintah dalam mencapai Bonus demografi. Dimana saat berada pada usia lansia, bagaimana bisa tetap menjadi produktif  dan tidak menjadi beban bagi negara nantinya. 


"Dengan dibukannya sekolah lansia ini banyak ilmu yang kami dapatkan bagi para lansia. Melalui pendekatan yang dilakukan oleh para pengajar atau dosen yang tetap mengedepankan adab dan sopan santun. Sehingga membuat kami para lansia sangat dihargai. Mulai dari pemberian materi dan juga praktek, diharapkan bisa diimplementasikan dan dituang tularkan kepada lansia lainnya," ujar Syahrial Yasin, salah seorang lansia yang merupakan siswa Sekolah Lansia Al Ikhwaniyah dari Kelurahan Delima.


Diakuinya, dalam proses belajar yang gelar disekolah lansia sebanyak 11 kali pertemuan tersebut dirasakan sangat kurang, apalagi sekolah tersebut bisa dijadikan wadah bagi para lansia untuk berinovasi dengan berbagai kegiatan, menambah wawasan. Namun begitu, meski terasa singkat ia berharap kegiatan ini tetap berlanjut," pungkasnya. (nie)