Bincang-bincang Puisi Bersama Kunni Masrohanti
Cari Berita

Advertisement


Bincang-bincang Puisi Bersama Kunni Masrohanti

Rabu, 09 Maret 2022



PEKANBARU, PARASRIAU.COM - Komunitas Seni Rumah Sunting Pekanbaru menggelar bincang kreatif menulis puisi bersama Kunni Masrohanti, Selasa, (8/3).


Bincang proses kreatif ini, lebih dikhususkan pada buku terbaru Kunni yang berjudul Dan, Perempuan yang Kau Telan Airmatamya. 


Kegiatan dilaksanakan di Basecamp Rumah Sunting, Jalan Lobak, Kecamatan Tampan Pekanbaru dan dihadiri para penulis muda, mahasiswa atau penyinta puisi. Mereka ada yang berasal dari komunitas, ada juga yang independen. 


''Alhamdulillah bisa berbagi dengan para penyair dan penulis muda tentang proses kreatif menulis puisi. Banyak hal yang bisa ditulis, apalagi airmata,'' kata Ketua Penyair Perempuan (PPI) Indonesia ini. 


Komunitas yang hadir di antaranya Musikalisasi Puisi Kesara, Kuala Aksara, Forum Lingkar Pena (FLP), Taman Baca Mentari Sago, Berita Esok Hari, Salmah Creatif Writing (SCW) dan lain sebagainya. 


Bincang proses kreatif ini dipandu Siti Salmah, owner SCW sekaligus Direktur Salmah Pjblishing selaku penerbit buku Dan Perempuan yang Kau Telan Airmatanya. Suasana semakin asyik meski dilaksanakan terbatas mengingat pandemi yang berlum berakhir ketika ini. 


Selain penyampaian tentang proses kreatif, pada kesempatan itu juga dibuka sesi tanya jawab. Perbincangan semakin hangat. Tidak hanya membahsa puisi-puisi di dalam buku itu tapi juga membahas judul yang memggunakan kata awal Dan yang dinilai misteri serta pembacaan puisi oleh peserta. 


''Banyak makna yang tersirat dalam puisi-puisi Kak Kunni Masrohanti kali ini. Judul bukunya saja sudah menarik, isinya juga begitu. Ada kepedihan yang mendalam dalam puisi-puisi ini, tapi bertukar dengam banyak suasana. Bahkan puisi terakhir dalam buku ini ditutup dengan kata jalan cajaya. Ini seperti simpul dari perjalanan panjang dalam buku ini,'' kata Awi Anjung. 


Mulyati Umar, penulis, penyair dan juga Owner Taman Baca Mentari Sago, juga menyampaikan banyak hal. Menurutnya, dalam uraian airmata, puisi-puisi dalam buku ini selalu dipenuhi dengan harapan. 


''Yang menarik dari buku ini adalah harapan. Selalu ada harapan dalam  kepedihan yang terasa di setiap puisi,'' kata Mulyati. 


Kunni sendiri menjelaskan, puisi-puisi itu lahir dari pengalaman banyak orang di sekitarnya. Menurutnya, pengalaman itu lahir dari proses kehidupan anak manusia yang siapa saja mengalaminya, yaitu keindahan dan pelajaran. 


''Sebagian hidup kita adalah keindahan, dan sebagiannya lagi adalah pelajaran. Jadi tidak ada duka atau kepedihan, semua itu pelajaran. Seperti menikmati keindahan, maka setiap airmata juga harus disyukuri karena semua adalah pelajaran,'' kata Kunni.(*)


Editor: M Ikhwan