Gado-gado Bahasa Indonesia
Cari Berita

Advertisement


Gado-gado Bahasa Indonesia

Minggu, 31 Oktober 2021

Rania Arditri Nadzifa


SAAT ini penggunaan media sosial makin marak di kalangan berbagai usia. Semua aplikasi media sosial mudah kita temukan di laman internet, baik laman yang resmi maupun laman personal. Budaya literasi yang berkembang baik melalui media sosial dapat meningkatkan cara berpikir kritis dalam proses membaca dan menulis menggunakan Bahasa Indonesia. 


Hal ini dapat mengurangi kebiasaan remaja yang kurang berminat dalam membaca, baik secara langsung seperti membaca buku maupun melalui sumber informasi dalam jaringan (daring). 


Penulis pada media sosial menggunakan bahasa yang dapat dimengerti oleh pembaca, namun adakalanya mereka menggunakan bahasa dengan kosakata yang tidak dimengerti oleh pembaca. Sehingga maksud yang disampaikan penulis tidak tersampaikan dengan baik. 


Sering kali ditemukan kesalahan dalam penggunaan Bahasa Indonesia pada media sosial. Kesalahan dalam berbahasa Indonesia dapat melunturkan jati diri bangsa, dikarenakan Bahasa Indonesia merupakan identitas Bangsa Indonesia.


Jati diri Bangsa Indonesia dikenal dengan budaya sosial, suka bermasyarakat dan berkumpul. Penggunaan Bahasa Indonesia dalam pergaulan sosial banyak dipengaruhi oleh bahasa pergaulan di kalangan masyarakat tertentu atau dikenal dengan bahasa gaul.


Menurut Suminar (2016) dan Sardiyah (2020) bahasa gaul pada awalnya digunakan oleh kalangan remaja, namun seiring berjalannya waktu bahasa gaul kerap digunakan di berbagai situasi dan berbagai orang. Bahasa gaul digunakan karena mudah dalam pengucapan dan sedang populer saat ini.


Beberapa contoh dari bahasa gaul adalah ‘santuy’ yang artinya santai dan ‘receh’ yang artinya ungkapan bagi seseorang yang mudah tertawa dalam hal lucu sekecil apapun. Bahasa gaul juga dapat berupa singkatan dari beberapa kata. Contohnya ‘baper’ yang merupakan singkatan dari bawa perasaan, ‘sotoy’ singkatan dari sok tahu dan ‘gaje’ singkatan dari tidak jelas. 


Bahasa gaul lebih efisien jika digunakan pada tempat yang informal dan berkomunikasi dengan orang terdekat. Namun banyak masyarakat yang tidak memperdulikan hal tersebut dan justru menggunakannya di berbagai situasi. Sehingga dapat membuat hilangnya keaslian dan kelestarian Bahasa Indonesia itu sendiri. 


Faktor utama mengapa Bahasa Indonesia tergantikan menjadi bahasa gaul dikarenakan perkembangan teknologi, khususnya media sosial yang membuat banyaknya masyarakat terpaksa atau cederung menggunakan ungkapan kata yang sedang digemari saat ini (Madina, 2019).


Faktor lain yang ikut mempengaruhi perkembangan Bahasa Indonesia adalah keragaman budaya Indonesia yang menambah kosakata penggunaan Bahasa Indonesia. Banyak bahasa daerah yang dipakai dalam berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia seperti, ‘sambat’ yang artinya mengeluh dan ‘ambyar’ yang artinya hancur dalam bahasa Jawa. Adalagi kata ‘cenah/ceunah’ yang artinya ‘katanya’, dan ‘acakadut’ yang artinya sembarangan atau sesuatu yang berantakan berasal dari Bahasa Sunda.


Selain faktor yang telah disebutkan di atas, penggunaan Bahasa Indonesia juga perlu memperhatikan penempatan kata yang baik. Contohnya pada penamaan makanan atau minuman. Penjual makanan kadangkala memberikan penamaan sesuatu yang dijual untuk tujuan menarik perhatian masyarakat. Namun sering kali terjadi penamaan yang tidak sesuai pada tempatnya seperti, ‘mi rawon setan’, ‘mi meledak’, dan ‘seblak neraka’. 


Penempatan nama makanan seharusnya diberikan dengan nama yang baik, karena disebutkan dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 168, bahwa makanlah makanan yang halal dan baik dan janganlah kamu sesekali mengikuti langkah-langkah setan. 


Oleh karena itu, agama menyuruh kita untuk menamakan makanan yang halal dengan nama yang baik, karena nama adalah doa. Sebaiknya penjual menggunakan nama yang baik dan pantas untuk makanan yang dijualnya, sehingga dapat menarik perhatian pelanggan tanpa harus menggunakan sebuah nama yang buruk dan tidak pantas.


Terakhir dapat disimpulkan bahwa Bahasa Indonesia harus digunakan pada tempatnya, begitu juga dalam penggunaan bahasa pergaulan sosial dan bahasa daerah. Dalam menggunakan bahasa gaul kita harus bisa menempatkan di mana dan dengan siapa kita berbicara serta kapan waktu kita berbicara secara formal maupun informal. 


Di era globalisasi ini masyarakat juga harus tetap mempertahankan kemurnian dan kelestarian Bahasa Indonesia, dikarenakan Bahasa Indonesia merupakan bahasa ibu dan jati diri bangsa Indonesia. Selain itu perlu dipertahankan agar Bahasa Indonesia tidak dicemari oleh pengaruh buruk media sosial. 


Bahasa Indonesia yang kaya dengan pengaruh bahasa pergaulan dan bahasa daerah, membuat Bahasa Indonesia makin lengkap layaknya seperti gado-gado makanan khas bangsa Indonesia. Gado-gado makin enak karena mengandung berbagai macam sayuran yang ditambah dengan bumbu kacang. 


Seperti itulah Bahasa Indonesia yang diperkaya dengan banyaknya pengaruh dari berbagai macam sumber. Dengan membiasakan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik, benar dan tepat dapat menumbuhkan budaya literasi di kalangan masyarakat khususnya kalangan remaja. ***


Penulis adalah siswi Kelas X MIPA2 MAN 2 Model Kota Pekanbaru-Riau