Perjuangan Berat untuk Pelestarian Alam dan ‘Memanusiakan’ Suku Asli di TNBT
Cari Berita

Advertisement


Perjuangan Berat untuk Pelestarian Alam dan ‘Memanusiakan’ Suku Asli di TNBT

Jumat, 20 Agustus 2021

Tim Ekspedisi PWI Riau foto bersama dengan Kepala Balai TNBT, Fifin Arfiana Jogasara S.Hut, M.Si beserta staf saat tiba di camp granit. 


PEKANBARU, PARASRIAU.COM - Jujur aku katakan bahwa kegiatan Ekspedisi ke Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) yang digelar pada 6-8 Agustus 2021 lalu oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau memang sangat menarik bagiku. Selain diriku belum pernah menapaki kaki di kawasan konservasi alam yang sangat luar biasa dan menjadi kebanggaan Provinsi Riau, khususnya Kabupaten Indragiri Hulu dan Kabupaten Pelalawan dan Provinsi Jambi, kegiatan ini juga akan menambah wawasanku tentang keberadaan alam yang eksotis beserta beragam isinya.


Dengan latar belakang pemandangan yang indah di atas ketinggian 437 mdpl di lokasi camp granit.

Bersama 45 rekan seprofesi, kami memulai perjalanan ekspedisi dari Kota Pekanbaru menggunakan bus menuju Kantor Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) di Rantau Langsat, Batang Gangsal, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) selama lebih kurang 4 jam perjalanan. Usai Sholat Jumat dan makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju Camp Granit di kawasan TNBT, Resort Talang Lakat dengan jarak tempuh sekira 12 KM. 


Bersama Ketua PWI Riau, H Zulmansyah Sekedang saat melakukan traking di kawasan hutan TNBT yang masih alami.

Namun sungguh mengejutkan, lokasi akses yang kami lalui cukup menguji Adrenalin para peserta. Kenapa tidak, jalan yang kami tempuh menuju Camp Granit tersebut selain tidak beraspal, terjal yang dibarengi jalan mendaki dan menurun yang cukup memompa isi perut kami. Meskipun jarak tempuh yang tidak jauh sekitar 12 KM, namun kondisi akses menuju kawasan TNBT ini sangat parah dan tak tersentuh aspal sama sekali.


Lokasi air terjun yang masih asri dan alami dilengkapi dengan kolam pemandian.

Namun, dengan bermodalkan enjoy dan gembira bersama seluruh tim ekspedisi, akhirnya setelah kurang lebih satu jam perjalanan kami pun sampai di kawasan Camp Granit. Ternyata memang, pesona alam di kawasan tersebut sangat alami, eksotis dan indah sekali. Jauh dari hiruk-pikuk, udaranya bersih dan kondisi pepohonan yang masih sangat alami. Dan kami pun disambut meriah oleh Kepala Balai TNBT, Fifin Arfiana Jogasara S.Hut, M.Si beserta stafnya yang sudah menyiapkan segala sesuatunya.


Tim Ekspedisi PWI Riau rehat sejenak sebelum sampai ke lokasi camp granit, dikarenakan akses jalan yang terjal dan cukup menguji adrenalin peserta.

Setelah cukup beristirahat, usai Sholat Magrib dan Isya berjamaah serta makan malam, kami pun berkumpul bersama Kepala Balai TNBT, Fifin Arfiana Jogasara S.Hut, M.Si beserta sejumlah stafnya dan mulailah ia memaparkan berbagai permasalahan dan program untuk pelestarian alam di kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT).



Di tengah sejumlah tenda dan beralaskan karpet di ketinggian 437 mdpl dan diselimuti udara yang cukup dingin, Fifin menjelaskan bahwa proses penetapan taman nasional ini bermula pada tahun 1982. Kala itu, ekosistem di Bukit Tiga Puluh diusulkan menjadi Suaka Margasatwa Bukit Besar seluas kurang lebih 200.000 ha dan Cagar Alam Seberida seluas 120.000 ha.


“Adapun pengusulan sebagai taman nasional dilakukan setelah tim dari Norwegia dan Indonesia mengadakan riset di kawasan ini pada rentang tahun 1991 hingga 1992. Dan kawasan ini resmi ditunjuk menjadi taman nasional pada tahun 1995. Kemudian pada tahun 2002 barulah terbit SK Penetapan Bukit Tiga Puluh menjadi taman nasional sesuai Ketetapan Menteri Kehutanan yang dituangkan melalui SK Menhut Nomor 6407/Kpts-II/2002 tanggal 21 Juni 2002. Sejak itu, kawasan Bukit Tiga Puluh resmi ditetapkan sebagai taman nasional dengan luas sekira 144.223 ha. Luasan ini terbentang di Provinsi Jambi seluas 17 persen yakni 33 ribuan. Sementara sisanya berada di kawasan Kabupaten Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir, Provinsi Riau. Kawasan TNBT ini juga dibagi menjadi dua seksi yakni seksi wilayah I di Tebo Provinsi Jambi yang dibagi menjadi dua resort (Suo-suo dan Lubuk Mandasah) dan seksi wilayah II di Belilas yang dikepalai oleh Pak Lukman di Kabupaten Inhu dan Inhil yang dibagi menjadi empat resort (Keritang, Talang Lakat, Siambo, Wahe). Dan saat ini kawasan TNBT sudah berusia 26 tahun dengan jumlah personil sebanyak 85 orang yang diantaranya 20 tenaga honorer,” jelas Fifin yang sudah bertugas sebagai Kepala Balai TNBT sejak Bulan Oktober Tahun 2019 lalu.


Kami rehat sejenak di bawah salah satu pohon yang tumbang bersama tim traking sebelum sampai ke lokasi air terjun.

Adapun fungsi utama TNBT ini, lanjut Fifin, antara lain sebagai perlindungan hidrologis pada daerah aliran sungai (DAS) Indragiri di Riau dan DAS Batanghari di Provinsi Jambi serta DAS/Sub DAS lain di sekitarnya. TNBT ini juga berfungsi sebagai perwakilan contoh ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah di Pulau Sumatera.


Selama pemaparan yang disampaikan yang ditemani suguhan kopi dan teh panas, jagung merah rebus, kacang rebus dengan hembusan angin malam, Fifin menjelaskan bahwa kawasan TNBT ini juga dijadikan sebagai destinasi wisata alam yang terbuka untuk umum. Memiliki keragaman hayati dan hampir semua spesies flora seperti raflesia, bunga bangkai dan fauna di Sumatera ada di dalam kawasan TNBT ini. Begitu pula kondisi sungai yang masih alami, panorama alam perbukitan, air terjun yang sudah dilengkapi dengan kolam renangnya. “Yang jelas, para pengunjung yang ingin merasakan sensasi alam yang masih alami, ya... ada di sini,” ujarnya.


Inilah lokasi bekas gudang dinamik pabrik granit yang hanya tinggal puing di atas salah satu puncak di kawasan TNBT.

Fifin menambahkan di kawasan ini terdapat salah satu bukit yang dinamakan dengan Bukit Lancang dengan ketinggian mencapai lebih kurang 450 mdpl juga terdapat pohon yang sangat besar yang dinamakan pohon Marsawa yang telah beusia kurang lebih 200-an tahun. Tumbuh menjulang ke langit dan berada di tengah-tengah puncak Bukit Lancang dan akar raksasanya menghujam ke tanah sebagai penyangga bukit tersebut. Sayangnya, aku memang tak sempat menyaksikan langsung keberadaan pohon tersebut dikarenakan memang tak ikut serta dalam rombongan 18 orang anggota Ekspedisi PWI Riau yang ikut mendaki ke bukit tersebut. Tetapi, aku dan rombongan lainnya tidak merasa rugi, karena kami menapaki treking pendek dan menelusuri hutan di sekitaran camp granit yang terdapat sebuah gudang dinamik bekas tambah batu granit dan berakhir di air terjun bersama Kepala Balai TNBT yang juga cukup menguras tenaga.


Kepala Balai TNBT, Fifin Arfiana Jogasara S.Hut, M.Si berpose dengan latarbelakang puncak camp granit yang indah dan alami.

Fifin juga mengakui bahwa kondisi akses menuju kawasan ini memang cukup parah. Dan selama ini dirinya mengaku sudah berjuang untuk memulihkan akses dan pelestarian kawasan tersebut bersama pemerintah pusat, pemerintah provisi dan pemerintah kabupaten. Namun hingga kini belum terwujud secara maksimal akibat keterbatasan anggaran dan lainnya. Begitu juga, dirinya juga berjuang untuk memberdayakan masyarakat asli tempatan alias ‘memanusiakan manusia’ seutuhnya. Seperti peningkatan sumber daya manusianya dengan fasilitas pendidikan dan lainnya terutama di kawasan zona khusus.


Tim Ekspedisi PWI Riau yang berjumlah 18 orang serta sejumlah staf Balai TNBT foto bersama di depan pohon Marsawa di atas puncak Bukit Lancang.

Adapun fungsi utama lain kawasan TNBT ini, kata Fifin, adalah sebagai paru-paru atau sumber oksigen dunia bagi kehidupan manusia. Hasil hutan non kayu pun tersedia, seperti getah, buah, rotan, madu, jernang dan lainnya. Sebagai ‘laboratorium alam’ untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan. Serta sebagai tempat hidup dan sumber penghidupan tiga masyarakat tradisional yang telah bermukim puluhan tahun di kawasan tersebut yakni Suku Kubu, Talang Mamak dan Melayu Asli Tua.


“Di dalam kawasan TNBT ini juga terdapat berbagai macam fauna. Seperti harimau Sumatera, beruang madu, orangutan, gajah, badak Sumatera, tapir dan berbagai spesies burung yang sudah terancam punah seperti rangkong dan kuaw. Untuk memantau berbagai spesies fauna ini, kami hanya baru sebatas memasang kamera trap untuk melihat dan memantau harimau dan hewan lainnya di kawasan TNBT ini. Namun penyampaian data harimau bagi kami masih dilema, karena informasi itu akan membuat para pemburu beraksi dan bergerak. Jadi kamipun juga harus lebih berhati-hati,” ujarnya.


Adapun komposisi kawasan TNBT ini seluas lebih kurang 134.306,74 ha  atau 93,12 persen, lanjutnya, merupakan hutan primer dan sekunder dan sisanya 9.916,26 ha atau sekira 6,88 persen merupakan open area yakni terdiri dari semak belukar, pertanian lahan kering, karet tua dan permukiman tradisional. “Namun, terus terang saya katakan bahwa kawasan TNBT ini merupakan aset yang sangat berharga yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Riau dan Provinsi Jambi yang harus dipertahankan dan dilenstarikan sebagai kantong ‘Oksigen Dunia,” ujarnya berharap.


Sementara itu, sambungnya, di sisi lain tentu masih ada saja ancaman bagi kawasan TNBT ini. Seperti perburuan liar satwa yang dilindungi dan penebangan liar. Menurutnya, masih saja ditemukan beberapa lokasi areal penebangan hutan secara liar. Seperti di Teluk Keritang, Simpang Datai, Sungai Akar, Rantau Langsat, Puntianal dan lainnya. Dan penebangan secara liar ini meningkat pada musim kemarau. Ancaman selanjutnya adalah peladangan berpindah yang masih saja dilakukan oleh suku asli yang hampir per tahunnya rata-rata mempergunakan lahan sekitar 1-2 ha per tahun oleh setiap kepala keluarga.


“Yang jelas sesuai tupoksi, Balai TNBT akan selalu berada di garda terdepan untuk menjaga kawasan yang menyimpan hampir seluruh spesies flora dan fauna yang ada di Pulau Sumatera ini dari segala macam ancaman yang dihadapi,” tegasnya optimis.


Salah satu potret kehidupan suku talang mamak di kawasan TNBT.

Di sisi lain, kata Fifin, tentang program pembinaan komunitas suku terasing yang berada di sepanjang kawasan TNBT ini juga sedikit mengalami kendala. Seperti Suku Anak Dalam yang telah mendiami kawasan TNBT di wilayah Provinsi Jambi sejak ratusan tahun termasuk komunitas nomaden yang selalu berpindah-pindah. Inilah salah satu program yang diusung Balai TNBT yaitu pembinaan terhadap mereka agar bisa meninggalkan prilaku nomaden. Pasalnya, prilaku nomaden ini sangat berdampak pada program pelestarian alam TNBT.


“Memang perpindahan Suku Anak Dalam tidak dilakukan mereka setiap tahun. Mereka biasanya berpindah akibat adanya anggota keluarga yang meninggal dunia atau hasil hutan di lokasi tempat tinggal mereka mulai habis, terjadinya musim buah di tempat lain bahkan adanya ancaman dari luar. Bahkan Kadang-kadang Suku Anak Dalam juga berbondong-bondong sampai ke wilayah Riau, jika musim buah di sini,” paparnya.


Adapun komunitas suku terasing yang mendiami kawasan TNBT di wilayah Riau yaitu Suku Talang Mamak yang mana seiring perkembangan zaman dan peradaban, Suku Talang Mamak ini pun terpecah menjadi Suku Talang Mamak dan Melayu Tua. Suku Talang Mamak ini mayoritas bermukim jauh di pedalaman di sepanjang aliran Sungai Batang Gangsal. Dan mereka banyak yang menganut kepercayaan animisme serta sangat teguh memegang keyakinan tentang kekuatan roh leluhurnya.


“Di kawasan Pintu Tujuh, dalam keyakinan Suku Talang Mamak kawasan ini sangat sakral. Di tempat inilah bermukimnya roh leluhur Talang Mamak. Jadi, inilah sekelumit kendala yang kami hadapi untuk bisa ‘memanusiakan’ masyarakat suku terasing yang ada di kawasan TNBT ini. Bahkan untuk memperjuangkan pendidikan anak-anak mereka pun kami mengalami sedikit kesulitan. Selain di sini tidak adanya fasilitas lembaga pendidikan, juga akses menuju ke kawasan tempat tinggal mereka pun sulit dijangkau,” ujar Fifin sambil menunjuk slide yang ditayangkan melalui layar infocus yang disaksikan tim ekspedisi.


Namun demikian, kata Fifin, keberhasilan Balai TNBT dalam melakukan pembinaan terhadap Suku Talang Mamak juga sudah bisa dikatakan cukup berhasil. Antara lain bahwa sebagian dari masyarakat Suku Talang Mamak kini sudah hidup menetap atau tidak lagi berpindah-pindah. Sekalipun mereka masih bermukim di pedalaman di sepanjang aliran Sungai Batang Gangsal, namun tidak ada yang harus dikhawatirkan.


“Saat ini Alhamdulillah sebagian dari mereka (Suku Talang Mamak, red) sudah mulai memiliki kearifan lokal yang juga sudah sangat menghargai keberadaan hutan. Jadi tidak ada yang harus dikhawatirkan,” kata Fifin sambil tersenyum gembira.


Begitu juga dengan komunitas Melayu Tua yang sudah tidak mau melakukan pengrusakan hutan. Mereka sekarang bermukim dan membangun rumah di sekitar perkotaan. Mereka sudah beragama Islam dan sudah mengenal pendidikan formal.


Meskipun demikian, komunitas Melayu Tua masih tetap mengikuti berbagai ritual dan prosesi adat yang digelar Suku Talang Mamak. Mereka akan masuk ke dalam hutan ketika Suku Talang Mamak menggelar ritual dan prosesi adat. Seperti Kumantan yaitu prosesi pengobatan penyakit, cuci lantai prosesi adat untuk bayi yang baru lahir. Ada juga yang disebut Begawai yaitu prosesi pernikahan. Bahkan kematian pun memiliki prosesi adat yakni Meratap, Merota dan Betambat.


“Meskipun mereka sudah tinggal di wilayah perkotaan, namun mereka tak akan pernah bisa dipisahkan dari hutan. Mereka akan tetao kembali ke hutan, ya ke Taman Nasional Bukit Tiga Puluh ini,” ujar Fifin.


Hal itu terbukti saat rombongan memasuki kawasan taman nasional, terlihat dua warga Talang Mamak dari komunitas Melayu Tua keluar dari hutan dengan membawa buah-buahan. Pengemudi mobilpun sempat berhenti dan menawarkan rokok dan secara spontan warga Melayu Tua pun juga langsung menawarkan buah rimba yang dibawanya.


Untuk itu, kata Fifin, dirinya bersama seluruh staf yang berjumlah 85 orang sangat berharap melalui tim Ekspedisi PWI Riau ini bisa membantu menyuarakan dan memperjuangkan pemulihan dan pemanfaatan kawasan konservasi alam Taman Nasional Bukit Tiga Puluh secara bersama-sama melalui tulisan kawan-kawan. Agar pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten bisa bergandengan tangan dan sama-sama memberikan perhatian khusus untuk penyelamatan alam dan menjaga kelestarian kawasan ini menjadi lebih baik. Karena memang, sejujurnya bahwa kawasan TNBT merupakan kebanggakan tersendiri bagi Provinsi Riau dan Provinsi Jambi yang harus betul-betul dijaga dan dilestarikan untuk kehidupan anak cucu kita yang akan datang dan sebagai ‘kantong oksigen’ dunia. ***


HM Ikhwan, penulis adalah Pemimpin Redaksi www.parasriau.com