Duka Gontor Duka Bangsa Indonesia
Cari Berita

Advertisement

target='_blank' title='Settia Blog'>settia

Duka Gontor Duka Bangsa Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2020



PARASRIAU.COM -  Inna Lillahi wa inna ilaihi raji’un. Segala yang bernyawa pasti akan mencicipi kematian. Namun, wafatnya seorang ‘kusuma bangsa’ seperti KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, menyisakan kesedihan abadi.


Kiyai Abdullah Syukri ini adalah putra pertama dari Kiyai Imam Zarkasyi, yang merupakan salah seorang dari Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor. Pada tahun 1960-an, ia menamatkan Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah (KMI) dan melanjutkan studi di IAIN Syarif Hidayatullah. Sementara tiga puluh tahun kemudian, 1992, penulis baru mengenyam pertama pendidikan di Gontor. Walaupun hanya satu Minggu penulis meneguk ilmu Gontor, pondok yang dibangun oleh Trimurti dan sudah diberi fondasi oleh Syeikh Sulaiman Jamaluddin asal Cirebon itu.


Kiyai Abdullah Syukri adalah ulama besar jebolan Al-Azhar University Kairo, mulai dari meraih gelar Licence (Lc.) tahun 1976 hingga Master of Art (MA) di tahun 1978. Sejak tahun 1971, diangkat menjadi pengurus inti Himpunan Pelajar Islam, Kairo. Beliau figur ideal Azhariyyin.


Intelektualisme dan kepakaran Kiyai Abdullah Syukri Zarkasyi dapat dilihat dari beragam karyanya, yang dalam hemat penulis terpusat pada tiga (3) topik utama: pendidikan Islam, ekonomi Islam, serta budaya dan sains Islam. Beliau tampak sebagai seorang organisatoris modernis dalam memetakan gerak langkah pondok pesantren.


Pemikiran Kiyai Abdullah Zarkasyi ini tertuang dalam aktivisme di Pondok Modern Darussalam Gontor. Idealisme beliau secara konkrit dapat dipahami dengan cara melihat Pondok Gontor itu sendiri. Beberapa karya beliau menjadikan Pondok Gontor sebagai sampel pemikirannya.


Potret Pondok Gontor bukan saja prototipe bagi pendidikan Islam yang ideal. Lebih dari itu, manajemen bisnis dan usaha yang dikelola Pondok Gontor juga ‘pintu masuk’ kita memahami pemikiran Kiyai Abdullah Syukri Zarkasyi ini.


Terakhir, dengan tetap mengambil Pondok Gontor sebagai sampel, Kiyai Abudullah Syukri Zarkasyi melihat bahwa agama dan budaya Islam adalah ruh penggerak bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Ini melengkapi cara pandang kita dalam membaca pemikiran beliau, yang kontekstual hingga beliau meninggalkan kita seperti sekarang.


Dengan pemikiran yang utuh semacam itu, tidak heran bila Kiyai Abdullah Syukri Zarkasyi aktif di berbagai bidang. Beliau menerima amanah untuk menjadi anggota Dewa Penasehat Majelis Ulama Indonesia Pusat, Ketua Majlis Pertimbangan Pendidikan dan Pengajaran Agama (1999-sekarang), Ketua Badan Silaturahmi Pondok Pesantren Jawa Timur (1999-sekarang), dan tentunya Pimpinan Pondok Modern Gontor (1985-sekarang).


Perjalanan karier organisasi dan intelektual Kiyai Abdullah Syukri Zarkasyi tersebut, betul-betul menginspirasi penulis. Walaupun tidak sampai satu bulan menjadi santri Pondok Modern Gontor, penulis tetaplah alumninya. Bahkan, ketika penulis diamanahi memimpin Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, sepuluh (10) asatidz-asatidzahnya merupakan alumni-alumni Pondok Gontor.


Menyambung tali keberkahan rasa-rasanya tidak cukup sebatas menjadi santri yang pernah berlalu ditelan sejarah. Tali keberkahan itu tetap terawat, setidaknya ada tiang-tiang pancang alumni Pondok Gontor yang menularkan ilmunya di Pondok Bina Insan Mulia (Bima) ini. Sehingga proses transformasi keilmuan juga keberkahan dari Gontor ke Bima tidak terputus.


Lebih dari itu, penulis adalah bagian dari Walisantri, yang sebagaimana para Walisantri lain, menitipkan anak-anak kami di Gontor. Sebagai Walisantri, penulis mewakili perasaan para Walisantri lain, yang berharap agar anak-anak kami meneladani jejak langkah akhlak, budi pekerti, dan intelektualitas Kiyai Abdullah Syukri Zarkasyi. Dua anak penulis sedang menadahkan tangan mereka agar mendapat tetes ilmu dan berkah dari Kiyai inspiratif ini.


Kepemimpinan Kiyai Abdullah Syukri Zarkasyi betul-betul menginspirasi penulis dalam mengelola manajemen pendidikan pesantren, terlebih dalam melihat arti penting hubungan budaya Islam dan sains teknologi. Sudah bukan saatnya lagi komunitas pesantren dipandang sebelah mata oleh mereka yang belum mengerti pondok pesantren.


Dengan kepergian beliau yang mendadak ke haribaan Allah SWT, penulis menjadi bersedih hati. Setelah Kiyai Abdullah Syukri Zarkasyi ini, siapa sosok dan figur ideal yang akan menginspirasi umat muslim pada khususnya dan bangsa kita pada umumnya. Puluhan ribu alumni dan santri Pondok Gontor pernah menimba ilmu dari beliau.


Sungguh, keberpulangan Kiyai Abdullah Syukri Zarkasyi yang terkesan sangat mendadak ini, merupakan duka besar, bukan saja duka keluarga besar Gontor, melainkan duka umat muslim pada umumnya. Sudah bukan rahasia lagi, Pondok Modern Gontor berdiri di atas dan untuk semua golongan, tanpa memilih-memilah bendera. Ia mengayomi seluruh golongan, dengan dekapan hangat yang sama.


Kini penulis yang sekaligus santri Pondok Gontor hanya mampu menengadahkan tangan ke langit, lalu berdoa: “ya Allah, ampunilah beliau, rahmatilah beliau, muliakanlah tempat beliau di sisi-Mu, lapangkanlah hunian beliau di hadapan-Mu. Ya Allah, terimalah segala amal kebaikan beliau dan janganlah Engkau membuat kami tersesat sepeninggal beliau.” Amin.***


Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A, Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; santri Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor 1992.