Rektor UNIDA: Kami Serius Tangani Covid-19 di Pesantren
Cari Berita

Advertisement

settia

Rektor UNIDA: Kami Serius Tangani Covid-19 di Pesantren

Rabu, 22 Juli 2020


JAKARTA, PARASRIAU.COM - Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) menegaskan kesiapannya dalam menangani dan mencegah penyebaran Covid-19 di lingkungan pesantren.

Pernyataan ini disampaikan oleh Rektor Universitas Darussalam Gontor (UNIDA), Prof Dr Amal Fathullah Zarkasyi dalam diskusi bertajuk “Laporan dari Pesantren” yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Selasa (21/7) kemarin.

Selain Prof Amal, hadir dalam diskusi kali ini, Dr H Waryono MAg selaku Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama serta Sarwa Pramana dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Jawa Tengah.

Dalam ulasannya, Prof Amal menyampaikan pengalaman Gontor dalam menangani santri Gontor Kampus 2 yang terpapar Covid-19. Prof Amal menegaskan bahwa kasus Covid-19 di Gontor Kampus 2 berasal dari luar atau imported case. Mengetahui hal tersebut, Gontor, sebut Prof Amal, lantas melakukan tes swab serta melakukan tracing kepada santri yang memiliki kontak fisik dengan pasien.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, lantas menawarkan bantuan bagi santri Gontor yang terpapar Covid-19. Khofifah menawarkan agar para santri Gontor 2 yang terpapar Covid-19 untuk dirawat di Rumah Sakit Lapangan di Indrapura, Surabaya.

“Saya sangat berterima kasih kepada Ibu Gubernur karena telah membantu anak-anak kami cepat sembuh dengan pelayanan yang sangat baik,” ungkap Prof Amal dalam rilis yang dilansir  gontornews.com.

Sebagai informasi, Gontor mengonfirmasi bahwa ada sekitar 50 santri Gontor 2 yang terpapar Covid-19. Namun, 40 dari 50 pasien positif Covid-19 sudah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan kembali ke Pondok. Meski demikian, Gontor mewajibkan kepada seluruh pasien yang dinyatakan sembuh untuk menjalani karantina selama 14 hari sebelum kembali berbaur dengan para santri.

Jauh sebelum merebaknya kasus Covid-19, Gontor, sebut Prof Amal, telah menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Namun, kasus positif Covid-19 yang terjadi di lingkungan Gontor merupakan kasus yang berasal dari luar.

Selain memberlakukan protokol kesehatan, Gontor juga terbantu dengan kiprah para alumninya. Sebut saja, Komunitas Masyarakat Santri (Komas) yang mewakafkan alat PCR demi mempercepat penanganan Covid-19 di Gontor dan masyarakat Ponorogo pada umumnya.

“Alhamdulillah, kami mendapatkan wakaf dari alumni Gontor berupa alat tes PCR senilai 3,2 miliar rupiah. Sementara secara operasional alat tersebut, kami menggandeng Rumah Sakit Aisyiyah Ponorogo,” pungkas Prof Amal. pr2