Berseni dan Bersastra Haruslah Dilakukan Demi Niat yang Agung
Cari Berita

Advertisement

target='_blank' title='Settia Blog'>settia

Berseni dan Bersastra Haruslah Dilakukan Demi Niat yang Agung

Minggu, 02 Februari 2020

 

KUALA LUMPUR, PARASRIAU.COM - Sastra dan sains mempunyai hubungan yang erat. Sastra tanpa sains tak akan membawa  kemajuan. Sebaliknya, sains tanpa sastra tak akan memberikan keindahan atau kering.


''Berseni dan bersastra haruslah dilakukan demi niat yang agung. Yaitu Allah dan sunnah Rasul. Hal ini sudah diperlihatkan dalam karya-karya sastrawan Malaysia. Di antaranya Datuk Seri A Samad Said dengan puisi panjangnya Al Amin. Begitu pula puisi-puisi yang dihasilkan Dato' Kemala,'' ungkap Ketua Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), Kuala Lumpur, Malaysia, Prof Dr Mohamed Hatta Shaharom saat membuka acara Santun 79 Kemala. Shaharom baru-baru ini.

Pada setiap sesi acara Santun 79 Kemala diselingi dengan pembacaan puisi, puisi tari dan puisi lagu oleh para penyair 4 negara. Di antara penyair yang tampil adalah Penyair dan Novelis Nasional Malaysia yang kini berusia 81 tahun, SN A Samad Said. 

Sedangkan dari Thailand diwakili  pensyarah tamu Prince Songkhla University, Thailand asal Yogyakarta, Indonesia, Anindya Puspita.

Sementara para penyair Indonesia yang turut .mempersembahkan bacaan puisinya adalah Muhammad Husnu Abadi dan Fakhrunnas MA Jabbar (Riau), Lily Siti Multatuliana (Jakarta), Risma Dewi Purwita (NTT), Siamir Marulafau (Sumut) serta Nuthalya Anwar dan Ariani Isnamurti (Jakarta). 

Sastra dan Bahasa Melayu diperkirakan tak akan pernah mati. Bagaimana tidak? Ini dilihat dari perkembangan kreativitas karya@sastra berupa puisi dan prosa yang ditulis para sastrawan di berbagai negara di dunia, terutama kawasan Melayu Serumpun. Apalagi, jumlah pengguna bahasa Melayu keseluruhan mencapai 300 juta jiwa.

Dan khusus puisi-puisi  yang dihasilkan penyair nasional terkemuka Malaysia,  SN Dato' Kemala yang religius dan sufistik menegaskan dirinya merupakan pelanjut penyair sufi dunia Mihammad Iqbal.

Pernyataan ini merupakan kesimpulan dari pidato utama kritikus sastra Malaysia, Dr Mana Sikana dan hasil pembahasan dua sesi diskusi yang membahas karya-karya penyair Kemala  dalam rangkaian Temu Sastra 4 Negara Santun 79 Kemala di Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), Kuala Lumpur, Malaysia, 30 Januari 2020.

Kritikus Sastra Dr Mana Sikana dalam pidato yang dibacakan perwakilannya menegaskan kedalaman religi puisi-puisi Kemala selama ini menunjukkan komitmen sikapnya yang sangat Islami. Berkarya kreatif bagi Kemala bermakna wujud pengabdian dirinya kepada Allah yang Maha Pencipta.

Pendapat yang hampir sama juga muncul pada diskusi sesi pertama bertajuk Laut Takjub  dengan  pembicara,  dengan para pembicara dari Malaysia yakni Prof Madya Dr Kamariah Kamarudin dan Dr Hanafi Ibrahim dengan Moderator Hj Wardawati Sharif. 

Begitu pula pada diskusi sesi kedua bertajuk 'Lanskap Ungu Kemala' dan menampilkan para pembicara yakni  Hj Arbak Othman (Malaysia), Drs Siamir Marulafau dan Dra Lily Siti Muthathuliana (keduanya dari Indonesia) dengan  Moderator Hj Wardawati Sharif.

Para pembicara seminar dalam rangkaian diskusi menegaskan,  hampir semua puisi Kemala menggambarkan kedekatan dengan Tuhan. Selain itu, Kemala sangat akrab dengan alam dan humanistik dengan bahasa yang indah dan kaya dengan  metaforik serta sederhana.(*)


Editor: M Ikhwan