Lebih dari Tiga Juta Warga Indonesia Masih Buta Aksara
Cari Berita

Advertisement

settia

Lebih dari Tiga Juta Warga Indonesia Masih Buta Aksara

Sabtu, 07 September 2019


MAKASSAR,PARASRIAU.COM - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencatat jumlah warga Indonesia yang masih buta aksara sebanyak lebih dari tiga juta jiwa. Berdasarkan angka ini, Kemendikbud menargetkan angka buta aksara menurun hingga 0 persen. 

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Harris Iskandar mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2018, angka buta aksara di Indonesia tersisa 1,93 persen. "Angka ini setara dengan 3.290.490 orang yang masih buta aksara," ujar Harris dalam acara peringatan Hari Aksara Internasional tingkat Nasional 2019 di Lapangan Karebosi, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (7/9).

Harris melanjutkan, jumlah angka buta aksara tersebut merupakan sasaran yang tidak mudah untuk diselesaikan. Pasalnya, warga yang buta aksara bermukim di kawasan terpencil dan sulit dijangkau.

"Namun demikian kita harus bertekad untuk menurunkan angka buta aksara hingga 0 persen. Inilah pentingnya peringatan Hari Aksara Internasional tibgkat nasional ini, yakni mengingatkan komitmen semua pihak dalam melaksanakan pemberantasan buta aksara," tegas Harris.

Dia mengungkapkan, peringatan hari aksara tahun ini mengambil tema 'Ragam Budaya Lokal dan Literasi Masyarakat'. Tema ini mengandung pesan bahwa Indonesia yang terdiri dari sekian banyak suku bangsa, agama/kepercayaan, dan budaya lokal sehingga merupakan aset penting untuk memberantas buta aksara di masyarakat secara berkesinambungan.

"Kami ingin memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan pendidikan baik di tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten/kota dalam penuntasan buta aksara, juga mensosialisasikan kebijakan dan program percepatan penuntasan buta aksara di Indonesia melalui Gerakan Literasi Nasional, " tambah Harris.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, mengatakan, angka buta aksara di enam provinsi masih tergolong tinggi. Persentase buta aksara di enam provinsi ini masih di atas empat persen.

Menurut Muhadjir, pada 2004 lalu Indonesia  berhasil mengurangi separuh jumlah penduduk buta aksara dari 10,20 persen (15,4 juta orang), menjadi 5,02 persen (7,54 juta orang) pada tahun 2010. Kemudian, pada tahun ini Indonesia bahkan telah berhasil menekan angka buta aksara lebih rendah lagi hingga 1,93 persen (atau 3,2 juta orang). Angka ini menurun dari sebesar 2,07 (atau 3,4 juta orang) pada tahun sebelumnya.

"Meskipun jumlah buta aksara di negara kita sudah menurun, bukan berarti Gerakan Nasional 'Pemberantasan Buta Huruf' atau pemberantasan buta akasara ini sudah selesai. Tugas kita bersama untuk menuntaskan buta aksara dan membebaskan bangsa ini dari kebutaaksaraan harus terus kita lakukan," ujar Muhadjir saat memberikan sambutan dalam peringatan Hari Aksara Internasional tingkat Nasional 2019 di Lapangan Karebosi, Makassar,  Sulawesi Selatan, Sabtu. 

6 Provinsi Zona Merah Buta Aksara
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan melakukan pendekatan secara prioritas untuk memberantas tingkat buta aksara di Indonesia. Pada 2019, masih ada enam provinsi yang masih masuk kategori zona merah buta aksara.

"Pertama kami sasar provinsi yang masih zona merah, daerah yang persentase buta hurufnya empat persen ke atas," kata Direktur Pembinaan Pendidikan Keaksaraan Kemendikbud Abdul Kahar via telepon di Jakarta, Jumat (6/9) kemarin.

Wilayah yang tercakup dalam zona merah tersebut, Papua, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Barat. Pendekatan yang dilakukan Kemedikbud untuk menurunkan tingkat buta aksara, kata dia, dengan memanfaatkan dukungan APBN yang difokuskan pada penanganan buta aksara.

Selain itu, Kemendikbud juga mengajak pemerintah daerah untuk mengoptimalkan APBD dan peran serta masyarakat. Ia mencontohkan Kabupaten Bonemembuat satu peraturan yang mewajibkan satu guru untuk memberantas minimal lima orang yang mengalami buta aksara.

Kemendikbud juga bekerja sama dengan pemda setempat dalam pengembangan model keaksaraan yang disebut tutor balik bola. Model tersebut mengembangkan gaya melek aksara dengan wajib membantu tetangga yang masih buta aksara. "Ini semua dilakukan secara simultan," katanya.***

dilansir: republika.co.id