Diskusi Seni sempena pameran tunggal karya Cak Winda di Galeri Hang Nadim, Kamis (24/9/2026). FOTO IST
PEKANBARU, PARASRIAU.COM - Galeri Hang Nadim menggelar Diskusi Seni seiring pameran tunggal oleh Cak Winda, perupa Riau, Kamis (24/9/2026). Pameran ini diberi judul CONTEXT dengan aliran atau genre abstrak.
Belasan pengunjung, di antaranya Komunitas Seni Budaya Rumah Sunting, Suku Seni dan beberapa anak muda lainnya, beramai-ramai menumpahkan rasa ke dinding plastik tersebut. Aksi meracik rasa dalam karya rupa dengan cat warna-warni itu mereka lakukan beberapa saat sebelum Diskusi Seni bersama Cak Winda dimulai.
Diskusi Seni ini diberi judul Belajar Rasa pada Karya. Sedangkan gagasan yang diusung yakni, Mengolah Rasa Menjadi Keindahan, Merawat Rasa Menjadi Kebijaksanaan. Diskusi dipandu oleh seniman Riau, Bens Sani.
Ketua Galeri Hang Nadim, Furqon Elwe, mengawali diskusi tersebut dengan memaparkan mengapa ada pameran Tunggal karya Cak Winda di galeri tersebut.
Dijelaskan Furqon, Pameran CONTEXT adalah pameran tunggal kedua yang ditaja GHN setelah pameran IDENTIC 4 Februari lalu. Bulan depan, GHN juga sudah mengagendakan pameran tunggal seorang perupa Riau. Ini perkembangan menarik dan tentu saja menggembirakan, karena pameran tunggal jarang diselenggarakan di Riau, Pekanbaru khususnya.
‘’Kita bisa membacanya sebagai makin tum-buhnya kepercayaan perupa kepada GHN sebagai pihak penyelenggara pameran. Kepercayaan tersebut tentu tidak muncul begitu saja, melainkan tumbuh karena rekam jejak GHN. Galeri sebagai salah satu elemen ekosistem seni rupa, setakat ini berhasil menjalankan perannya sebagai pembuka “wacana pasar” sembari terus “memasarkan wacana” untuk membangun ekosistem seni rupa yang ideal,’’ jelas Furqon.
Dijelaskan Furqon lebih lanjut, Galeri Hang Nadim juga memberi ruang bagi para perupa untuk melaksanakan pameran di galeri tersebut, sekaligus memberi akses seluas-luasnya kepada masyarakat untuk bisa melihat lebih dekat dan menikmati karya seni di ruang-ruang publik.
Setelah pameran Cak Winda yang dimulai 9 September dan berakhir pada 10 Oktober nanti, akan dilanjutkan dengan pameran tunggal karya perupa lainnya yang dimulai tanggal 21 Oktober.
Bens Sani, sang moderator moderator, sudah membuka ruang pertemuan itu dengan kalimat, ‘’Jangan ditanya itu apa, tapi nikmati saja rasanya’’. Kalimat ini menunjukkan bahwa karya-karya Cak Winda yang abstrak memiliki makna dan rasa yang berbeda bagi setiap orang. Tergantung bagaimana ia membuka dan menemukan rasa itu.
Sebagai perupa, kurator sekaligus narasumber diskusi, Cak Winda memulai perbincangan panjang dengan memutar video Cak Nun yang mengulas tentang keindahan, bahwa indah adalah anugerah.
‘’Semua orang suka sama yang indah. Hal-hal yang indah itu anugerah. Maka, kita harus peka terhadap keindahan. Keindahan dimulai dari rasa. Merasakan dengan indah. Ada rasa. Pameran karya kali ini tentang rasanya dengan tema CONTEXT. Silakan merasakan, dirasa-rasa dan tumpahkan rasa lewat karya. Upaya ini juga akan membuat seseorang lupa dengan rasa-rasa yang menyakitkan sebelumnya atau yang menakutkan tentang masa depan,’’ kata Cak Winda.
Malam itu mengupas rasa, bercerita tentang rasa. Satu rasa bisa beda karya, apalagi banyak rasa, pasti akan banyak bentuk karya yang berbeda. Ada rasa lama yang terhubung setelah melihat satu karya. Artinya ada cerita atau peristiwa yang serupa dengan karya tersebut. Seorang anak muda bertanya, untuk apa Cak Winda melukis.
‘’Tidak semua orang bisa melukis atau melahirkan karya. Karena ini adalah keindahan dan keindahan atau kemampuan mengeluarkan yang ada pada kita adalah Amanah, maka Saya harus mengeluarkan. Maka, itulah yang mendorong mengapa Saya harus melukis,’’ jawab Cak Winda dalam diskusi tersebut.
Diskusi makin berisi ketika Saridan, S.Sn, salah seorang kurator Galeri Hang Nadim juga hadir dan membagikan banyak pengetahuan tentang seni dan karya-karya seniman, termasuk seni rupa.
Diskusi Seni malam itu berlangsung panjang. Di sela-sela diskusi, peserta diminta mengamati dan merasakan salah satu lukisan dan mengungkapkan rasa atau apa yang ia temukan dalam lukisan itu. Saat diskusi kembali dimulai, hampir setiap orang menyampaikan isi pemikirannya. Semua punya tafsir yang berbeda, punya rasa yang tak sama.***

