Kampung Adat Majalaya Pukau Puluhan Penyair Perempuan Indonesia -->
Cari Berita

Advertisement

Kampung Adat Majalaya Pukau Puluhan Penyair Perempuan Indonesia

Rabu, 05 Agustus 2026

Kampung Adat Majalaya Pukau Puluhan Penyair Perempuan Indonesia 

KUNINGAN, PARASRIAU.COM - Majalaya adalah dusun kecil di Desa Dukuhbadag, Kecamatan Cibingbin, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Dusun yang kerap kali disebut kampung ini hanya dihuni 40 rumah. Tidak boleh lebih. 

Semua rumahnya juga hanya menghadap ke timur atau Selatan, alias tidak ada satu pun yang menghadap ke Barat atu Timur. Begitulah keluhuran budaya di kampung adat Majalaya.

Tim Penyair Perempuan Indonesia (PPI) yang sedang melakukan kegiatan Pulang ke Kampung Tradisi (PKT) ke-6 tahun ini, menjadikan  kampung adat Majalaya sebagai salah satu tujuan riset. 

Mereka disambut lurah, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemerintah desa setempat, pemuda, kaum ibu serta anak-anak. 
Selain melakukan observasi dan wawancara dengan tokoh dan masyarakat di sana, puluhan tim PPI juga disuguhi berbagai pergelaran seni tradisional, jajanan dan makanan tradisional khas Majalaya. 

Yang paling unik dan membuat para penyair terpukau, saat tiba di Lokasi adalah mereka menyaksikan pertunjukan gamelan yang semua pemainnya adalah perempuan.

‘’Kampung adat Majalaya ini kaya dengan kearifan lokal dan tradisi. Yang paling unik itu, begitu sampai, kami langsung disuguhi pertunjukan seni yang semuanya dimainkan oleh kaum perempuan, yakni pemukul gamelannya. Mereka memainkannya dengan bahagia dan sungguh-sungguh meski di antara mereka tidak ada lagi yang muda. Mereka bernyanyi dan juga berjoget. Sangat luar biasa. Nah, di antara mereka, ada satu anak laki-laki yang ikut bermain. Di sini kami melihat ada proses pewarisan,’’ kata Rini Intama, penyair asal Tangerang Banten, yang juga ketua panitia PKT tahun ini.

Semua jajanan lokal juga disajikan. Ada rebus-rebusan, makanan khas dari jagung yang bentuknya menyerupai getuk, sejenis nagasri dan lain sebagainya. Jajanan semakin terasa enak saat disandingkan dengan teh hangat. 

Makanan yang disajikan juga sangat tradisional dan beragam. Ada tumis daun dan bunga pepaya sekaligus dengan pepesnya, ikan asin goreng, sayur bening, rebusan daun-daun, serta lalapan lamtoro. Segar dan enak.

‘’Memang tidak ada satu pun rumah lama atau yang terbuat dari kayu di kampung ini. Semuanya sudah rumah batu. Tapi persoalan budaya bukan soal bentuk, melainkan nilai. Di desa ini, kami menemukan nilai-nilai luhur kearifan lokal itu, seperti semua rumah yang masih tetap menghadap utara dan Selatan, bahasa daerah yang masih kental, seni tradisi yang masih mengakar, kuliner lokal yang sehat dan masih banyak lainnya. Perempuan sangat berperan di kampung ini,’’ kata Ketua PPI, Kunni Masrohanti pula.

Pada kesempatan tersebut, dalam sambutannya, Kunni menyampaikan berbagai rangkaian kegiatan PKT tahun ini. Selain berkunjung ke kampung adat Majalaya, PPI juga berkunjung ke Pasar Renteng Cibogo, diskusi sastra dan panggung puisi, serta berkunjung ke kampung sekitar kaki Gunung Ciremai, tepatnya di Palutungan.

Lurah Dukuhbadag, Suyoto Adi Ardiwinata menyampaikan ungkapan terimakasih kepada segenap tim PPI yang hadir ke kampungnya. Ia berharap agar kebudayaan yang sedang dia bangun dan kembangkan bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas berkat kehadiran PPI.

‘’Saat ini kami terus memperkenalkan kesenian, kearifan lokal yang kami miliki dengan banyak cara. Tentu kedatangan penyair-penyair perempuan ini akan membantu mempromosikan. Kami mengucapkan banyak terimakasih,’’ kata lurah.***