Self Reward, Budaya Konsumtif dan Kesehatan Mental pada Generasi Z
Cari Berita

Advertisement

Self Reward, Budaya Konsumtif dan Kesehatan Mental pada Generasi Z

Rabu, 28 Januari 2026

Tresnawati adalah Mahasiswa Magister Manajemen Pasca Sarjana Universitas Lancang Kuning.



BELAKANGAN ini konsep self reward viral ditengah masyarakat khususnya pada generasi muda yakni generasi Zillenial. 


Tidak ada literatur yang jelas kapan dan siapa yang memunculkan konsep ini, yang jelas self reward mulai meresahkan ketika apresiasi diri berubah menjadi pembenaran untuk foya-foya dan perilaku konsumtif atau pelarian dari tanggung jawab. 


Alih alih self reward untuk menyehatkan mental, jika prilaku ini tidak dikendalikan dengan baik, berujung pada mental yang sakit.

Fenomena menyenangkan diri sendiri dengan memberikan penghargaan dinilai terlalu berlebihan jika  dikit-dikit kerja atau kerja dikit-dikit ada self rewardnya.


Self reward sendiri muncul seiring dengan makin tingginya awareness untuk mencintai diri sendiri atau yang disebut dengan self love. Dari self love kemudian muncul self reward yang berarti memberikan apresiasi atau penghargaan terhadap diri sendiri sebagai bentuk mencintai diri sendiri. 


Jadi, self reward ini adalah aktivitas untuk menghargai dan mengapresiasi diri sendiri atas perjuangan dan pencapaian yang telah diraih. 


Jika kita tilik kebelakang, pada jaman dulu, sebelum konsep self reward ini viral,  ketika orang-orang  sudah lelah bekerja, obat lelah itu  cukup istirahat, di jaman sekarang obat lelah bekerja adalah menghadiahi diri sendiri dengan belanja barang atau travelling. 


Menarik untuk di telaah lebih dalam, apakah orang-orang jaman sekarang khususnya gen Z rentan dengan stres sehingga perlu self reward untuk menyehatkan mentalnya. 


Fenomena Gen Z yang sering melakukan self reward sering dianggap sebagai tanda mental yang manja daripada mental generasi sebelumnya. 


Namun, jika dilihat dari sudut pandang psikologis dan konteks zaman, hal ini lebih merupakan mekanisme koping (cara mengatasi stres) di era yang serba cepat dan penuh tekanan. 


Sebagaimana kita ketahui Gen Z tumbuh di era digital yang kompetitif, sehingga self reward sering dijadikan pelarian instan untuk mencegah burnout atau stres berat. 


Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mental, dan self reward dipandang sebagai bentuk apresiasi diri untuk menyehatkan mental. 


Self reward ini dipandang mereka sebagai motivasi psikologis untuk meningkatkan hormon dopamin agar merasa lebih bahagia. Ini adalah mekanisme adabtasi terhadap beban kerja tinggi, bukan melulu soal kelemahan mental.


Media sosial memiliki peran besar dalam mempopulerkan dan memviralkan konsep self reward terutama dikalangan Gen Z. Narasi yang dibuat di media sosial cenderung menormalisasi perilaku belanja impulsif dengan kedok apresiasi diri atau mencintai diri sendiri setelah lelah bekerja. 


Jika memang setelah bekerja yang begitu keras atau melewati ujian yang sangat berat, sesekali mungkin perlu memberikan apresiasi kepada diri sendiri atas pencapaian tersebut, untuk merefresh tenaga dan mental yang terkuras agar kembali bersemangat untuk meraih capaian berikutnya. 


Tetapi kurang pas rasanya jika sedikit pencapaian kemudian ada self rewardnya, malah akan berkurang rasa spesialnya jika dilakukan terlalu sering. 


Jika barang yang dibeli terlalu mahal, hal ini akan berisiko terjadi pemborosan yang impulsif, bukan bentuk apresiasi yang sehat. 


Self reward sejatinya bertujuan merayakan progres, meningkatkan motivasi dan mengurangi burnout, tetapi harus terencana, sesuai anggaran dan tidak menjadi pembenaran gaya hidup boros. 


Self reward yang baik adalah yang menyehatkan mental dan tidak merusak finansial. 


Beberapa tips  agar self reward tidak berujung menjadi mental yang sakit, pertama tetapkan anggaran khusus, sisihkan dana khusus agar tidak mengganggu tabungan atau kebutuhan pokok misalnya jika telah merencanakan untuk menabung 30% dari pendapatan setiap bulannya, pastikan bahwa pengeluaran untuk self reward tidak lebih dari 5-10 % dari total pendapatan, dengan cara ini kita tetap menikmati hadiah tanpa harus merusak tabungan.


Kedua sesuaikan dengan pencapaian, jangan memberikan hadiah besar untuk pencapaian yang kecil.


Ketiga self reward diberikan setelah tugas selesai, bukan sebagai pelarian stres, ketiga fokus pada self reward non materi seperti membaca buku, menonton drama favorit, tidur siang sepuasnya, melakukan yoga/meditasi, berolahraga dan menyalurkan hobi seperti melukis atau bermain musik.


Agar terhindar dari stres, remaja harus mempunyai literasi keuangan yang baik agar perilaku keuangannya lebih terarah. Literasi keuangan (pemahaman konsep keuangan) dan perilaku keuangan (tindakan pengelolaan uang) adalah komponen krusial dalam manajemen keuangan modern. 


Teori utama yang mendasari teori perilaku keuangan adalah Nofsinger (2001) menjelaskan perilaku keuangan mempelajari bagaimana manusia secara aktual berperilaku dalam sebuah penentuan keuangan (a financial setting). 


Sementara teori literasi keuangan yang dikemukakan Chen dan Volpe (1998) menitikberatkan pada kemampuan individu dalam memahami dan mengelola keuangan pribadi.


Teori perilaku keuangan menjelaskan bahwa keputusan keuangan manusia sering dipengaruhi oleh aspek psikologis, bias kognitif dan emosi bukan sekedar rasionalitas murni. 


Sementara literasi keuangan adalah pengetahuan dan kemampuan untuk mengelola keuangan, seperti memahami utang, tabungan, investasi dan produk keuangan  lainnya. 


Semakin tinggi literasi keuangan akan semakin bagus perilaku keuangan seseorang, karena pemahaman mendalam tentang konsep keuangan mendorong individu membuat keputusan yang bijak, disiplin dan bertanggungjawab. 


Pengetahuan ini tentu mengurangi beban utang, menghindari investasi bodong dan pinjaman online yang meresahkan. Perilaku keuangan yang baik tentunya meningkatkan stabilitas ekonomi jangka panjang.


Mau self reward?  jangan lupa untuk menyeimbangkan antara apresiasi diri dan tanggung jawab ya...sehat mental juga harus sehat finansial.***