Juli 2021, Sekolah Tatap Muka Dilaksanakan, Bagaimana Risiko Anak Terinfeksi Corona?
Cari Berita

Advertisement


Juli 2021, Sekolah Tatap Muka Dilaksanakan, Bagaimana Risiko Anak Terinfeksi Corona?

Senin, 07 Juni 2021


JAKARTA, PARASRIAU.COM - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud-Ristek), Nadiem Makarim mengatakan, pembelajaran tatap muka tetap akan digelar pada Juli 2021.


Menurutnya, dengan kebijakan prioritas vaksin untuk para guru, sudah waktunya pembelajaran kembali dilakukan di sekolah.


Namun, Nadiem menekankan bahwa orang tua memiliki hak mutlak menentukan apakah anaknya sudah boleh ikut sekolah tatap muka atau belum.


“Itu hak prerogatif orang tua untuk memilih anaknya mau belajar tatap muka atau belajar jarak jauh,” tegas Nadiem dari laman Kemendikbud-Ristek.


Berikut beberapa pertanyaan yang mungkin menjadi kekhawatiran orangtua saat sekolah tatap muka kelak dilakukan.


1. Seberapa besar anak berisiko terinfeksi Covid-19?


Menurut dr. Tuty Mariana, SpA, Dokter Spesialis Anak Primaya Hospital Bekasi Timur, hingga saat ini, belum diketahui pasti risiko infeksi Covid-19 pada anak-anak.


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan dari jumlah total penderita Covid-19 di seluruh dunia, sebanyak 8,5 persen merupakan anak-anak berusia di bawah 18 tahun.


Angka kematiannya pun lebih sedikit dan biasanya gejalanya lebih ringan.


Kendati demikian, tetap ada laporan pasien anak-anak yang kritis melawan Covid-19.


Sejumlah penelitian terbatas yang dilakukan oleh sejumlah negara mendapati risiko anak tertular Covid-19 lebih kecil ketimbang orang dewasa.


Anak yang diteliti antara lain yang berumur di bawah 18 tahun, 15 tahun, dan 9 tahun.


Namun, berbeda dengan anak usia di bawah 1 tahun, risiko terkena Covid-19 lebih besar.


“Salah satu faktor yang mungkin memengaruhi risiko itu adalah sistem kekebalan anak," kata Tuty.


Dia menjelaskan, pada anak usia di bawah 1 tahun, sistem kekebalannya masih lemah sehingga lebih rentan tertular Covid-19.


Sedangkan anak yang lebih besar sudah sering diserang berbagai virus dan bakteri sehingga daya tahan tubuhnya lebih terlatih.


"Walau begitu, kemungkinan ini masih butuh penelitian lebih lanjut,” ujar dr. Tuty.


Namun perlu diingat, sekecil apa pun presentasenya tetap ada sekian anak yang berisiko terinfeksi.


2. Bagaimana peran anak-anak dalam penularan Covid-19 di sekolah?


Menurut WHO, peran anak-anak dalam penularan Covid-19 secara umum belum sepenuhnya dipahami.


Tuty menerangkan, hingga saat ini, sejumlah kluster muncul di sekolah-sekolah di berbagai negara karena biasanya gejala pada anak lebih sedikit dan sakitnya tidak terlalu parah. Kasus positif Covid-19 kadang tak terdeteksi.


Data studi awal pun menunjukkan tingkat penularan di kalangan remaja lebih tinggi ketimbang pada anak berusia lebih muda.


“Yang pasti, kesadaran anak untuk menerapkan protokol kesehatan secara umum lebih rendah ketimbang orang dewasa. Hal ini bisa menjadi salah satu faktor yang memengaruhi peran anak-anak dalam penularan Covid-19 di sekolah,” ujar Tuty seperti dilansir kompas.com.


Dia mengingatkan, masa inkubasi virus corona pada anak-anak sama dengan orang dewasa.


Adapun jarak antara paparan Covid-19 dan munculnya gejala pertama kali rata-rata 5-6 hari, selambatnya 14 hari.


Meski demikian, ada laporan periode inkubasi virus yang bisa mencapai 24 hari.


Karena itu, lama isolasi mandiri bagi anak juga sama dengan orang dewasa.


“Baik anak maupun orang tua mesti mematuhi pedoman mengenai karantina dan isolasi mandiri terkait dengan Covid-19 bila ada dugaan tertular. Sebaiknya segera menghindari kontak langsung dengan anggota keluarga lain yang memiliki penyakit bawaan atau komorbid yang serius,” ujar dr. Tuty.


Bila memungkinkan, anak bisa menjalani isolasi mandiri di rumah.


Risiko penularan Covid-19 dari anak selama masa isolasi tetap ada, sehingga orangtua yang merawat masih harus menerapkan protokol kesehatan ketat hingga isolasi selesai. pr2


Editor: M Ikhwan