Rayakan 1.081 Tahun Al-Azhar Kairo, OIAA Cabang Indonesia Gelar Berbagai Kegiatan
Cari Berita

Advertisement


Rayakan 1.081 Tahun Al-Azhar Kairo, OIAA Cabang Indonesia Gelar Berbagai Kegiatan

Selasa, 20 April 2021


JAKARTA, PARASRIAU.COM - Al-Azhar Kairo merupakan lembaga keislaman terkemuka dan sering menjadi rujukan umat Islam dunia pada mulanya sebuah masjid bernama Masjid Al-Azhar. Masjid itu mulai dibangun Panglima Jauhar As-Siqilli tahun 359 H atas perintah Khalifah Al-Mu’izz li Dinillah dari Dinasti Fathimiyah dan selesai tahun 361 H. Pada Jumat, 7 Ramadan 361 H dilakukan salat Jumat pertama di masjid itu. Hari itulah kemudian ditetapkan secara resmi sebagai Hari Al-Azhar (Al-Yawm al-‘Âlamiy li al-Azhar). Setiap tahun tanggal 7 Ramadan 1442 H diperingati sebagai Hari Al-Azhar dan pada 7 Ramadan 1442 H ini Al-Azhar genap berusia 1.081 tahun menurut hitungan kalender Hijriah. 



Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia menyelenggarakan serangkaian kegiatan dalam rangka merayakan peringatan 1.081 tahun Al-Azhar. Di antaranya adalah Musabaqah Tilawatil Qur’an huruf Braille dengan berbagai cabang lomba bagi kalangan tunanetra muslim dan webinar tentang “Metode Praktis Pembelajaran Al-Qur’an Braille”. Dalam kegiatan ini, OIAA Indonesia bekerja sama dengan Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI).


Selain itu, juga ada kegiatan tebar 1.081 paket sembako (bingkisan Ramadhan) untuk masyarakat miskin dan kaum dhuafa’.


”Pada Selasa, 8 Ramadhan 1442 H (20/4) siang  juga ada webinar dengan tajuk Peran Al-Azhar dan Ulamanya dalam Menguatkan Hubungan Diplomatik Indonesia-Mesir,” kata Ustadz Muhammad Arifin Lc, MA, penanggung jawab acara peringatan 1.082 tahun Al Azhar OIAA Indonesia melalui rilis yang diterima media ini, Selasa (20/4).


Hadir sebagai narasumber pada webinar tersebut adalah Deputi Grand Sheikh Al-Azhar Prof Dr  Mohamed al-Doweiny, Rektor Universitas Al-Azhar Prof Dr Mohamed Hosein Al-Mahrasawy, Menteri Luar Negeri RI Retno Lestari Marsudi, Menteri Agam RI Yaqut Cholil Qoumas, Duta Besar RI untuk Mesir Lutfi Rauf, Duta Besar Mesir untuk Indonesia Ashraf Sultan, dan Ketua OIAA Cabang Indonesia TGB M Zainul Majdi.


‘Para narasumber diharapkan menyoroti hubungan Indonesia-Mesir baik secara formal kenegaraan maupun hubungan antarmasyarakat kedua negara,” ujarnya. 


Diketahui, putra-putri Indonesia sudah berada di Mesir untuk menuntut ilmu di Al-Azhar jauh sebelum Indonesia merdeka. Pelajar dan mahasiswa Indonesia di Mesir pada masa-masa penjajahan ikut berperan melakukan lobi-lobi diplomatik untuk mendukung kemerdekaan Indonesia.


“Kegiatan peringatan 1.081 tahun Al-Azhar ini merupakan salah satu bentuk kesyukuran alumni Al-Azhar di Indonesia atas nikmat umur panjang Al-Azhar yang lebih dari 1.000 tahun sampai saat ini,” tuturnya.


Ia menambahkan, ribuan putra-putri Indonesia telah merasakan pendidikan di Universitas Al-Azhar Kairo, terutama di bidang studi keislaman, tanpa dikenakan biaya pendidikan. “Dengan aset wakafnya yang begitu besar dan produktif, Al-Azhar mampu menutupi biaya operasional pendidikan di berbagai jenjangnya sehingga tidak membebani peserta didik,” paparnya.


Ia menyebutkan, mengutip laman Kementerian Luar Negeri RI, Mesir merupakan negara Arab pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1946. Kedua negara membuka hubungan diplomatik yang ditandai dengan penandatanganan The Treaty of Friendship and Cordiality pada tanggal 10 Juni 1947 yang kemudian dilanjutkan dengan pembukaan Perwakilan RI di Kairo pada tahun 1949. 


Sementara itu, hubungan Al-Azhar dengan Indonesia juga sangat baik. Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, banyaknya jumlah putra-putri Indonesia yang telah dan sedang menimba ilmu di Al-Azhar, Kairo, di samping kehidupan keberagamaan dan pluralitas masyarakatnya, Indonesia sering mendapat perhatian “khusus” dari Al-Azhar.


Arifin mengatakan, hampir semua pemimpin tertinggi Al-Azhar pernah berkunjung ke Indonesia.  Yang terakhir adalah kunjungan Syaikh Al-Azhar Ahmed El-Tayeb pada April 2018 terkait High Level Consultation mengenai masalah Wasathiyah Islam. Pada kunjungan tersebut, Syekh Ahmed el-Tayeb juga menyampaikan kuliah umum di beberapa kampus, termasuk di forum khusus alumni Al-Azhar.


Selain menduduki posisi tertinggi kepemimpinan Al-Azhar, Syaikh Ahmed El-Tayeb juga mengetuai langsung Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) atau World Organization of Al-Azhar Graduates (WAAG). Organisasi ini dibentuk antara lain untuk memastikan keberlangsungan misi dakwah dan pendidikan Al-Azhar di dunia. Alumninya diharapkan terus menjaga metode dakwah Al-Azhar yang moderat. OIAA kemudian membuka cabang di banyak negara di dunia, dan OIAA Indonesia adalah cabang pertama yang dibuka di luar Mesir pada 2010 dengan Prof. M Quraish Shihab sebagai ketuanya hingga tahun 2017. Pada Multaqa Nasional OIAA 2017, kepemimpinan OIAA Indonesia beralih kepada TGB Muhammad Zainul Majdi.


Arifin menyebutkan, alumni Al-Azhar di Indonesia berjumlah lebih dari 10.000 orang, banyak yang berperan mengembangkan pondok pesantren dengan beragam coraknya, sekolah pendidikan formal, dakwah, menjadi dosen di perguruan tinggi keislaman, dan tidak jarang pula yang berperan di bidang politik. Di bidang politik, sekadar menyebut contoh, saat ini ada Fadhil Rahmi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, ada juga Wakil Bupati Mojokerto Muhammad Al-Barra, dan lain-lain. Di bidang dakwah, ada Ustad Abdul Somad (UAS), Hanan At-Taki, dan lain-lain. (pr2/rpk)


Editor: M Ikhwan