Visi dan Misi Al Azhar untuk Menyebarkan Moderasi Islam di Seluruh Penjuru Dunia
Cari Berita

Advertisement

settia

Visi dan Misi Al Azhar untuk Menyebarkan Moderasi Islam di Seluruh Penjuru Dunia

Jumat, 12 Juni 2020


CAIRO, PARASRIAU.COM - Wakil Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Pusat di Cairo, Osama Yassin menegaskan bahwa visi dan misi organisasi ini adalah bertujuan untuk menyebarkan moderasi Islam.

Hal ini disampaikannya saat penutupan Pelatihan Online untuk para Dai dan Imam yang digelar oleh Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) pusat di Cairo yang bekerjasama dengan OIAA cabang Indonesia, Kamis (11/6) kemarin secara online.


Selain menyampaikan visi dan misi organisasi, Osama Yassin juga menegaskan bahwa diselenggarakannya pelatihan ini juga bertujuan untuk menjangkau semua Azhary dan para alumni di seluruh dunia, membuat database untuk mereka, kemudian mengambil manfaat dari mereka.

Dijelaskannya, dalam acara penutupan pelatihan yang dimulai tanggal 14 Mei 2020 dan diikuti 40 peserta itu, tampak hadir Wakil Ketua OIAA Pusat Osama Yassin, Sekretaris Jenderal OIAA Pusat Abdel Dayem Nassair dan salah seorang nara sumber pelatihan Prof. Dr. Ibrahim Shalah al-Hudhud.

“Saya bersyukur atas keberhasilan kita melaksanakan daurah dai dan imam secara online ini. Pelatihan online ini, pertama kali kita lakukan. Ini salah satu strategi kita dalam mencapai visi dan misi organisasi,” ujar Osama Yassin.

Sementara itu, Dr. Abdel Dayem Naseer menegaskan, program pelatihan online ini sangat perlu untuk dilanjutkan dalam rangka menghadapi pemikiran ekstremis. Program ini memang sudah lama dibutuhkan oleh OIAA Pusat yang merupakan kelanjutan komunikasi antara organisasi dan para alumni Al-Azhar.

“Saya sangat berharap, bahkan ini sebuah kebutuhan kita semua, agar program ini terus berlanjut untuk menangkal dan mengobati pemikiran ekstrim,” tegas Sekjend OIAA Pusat sekaligus Penasihat Grand Shaikh Al-Azhar itu.

Panesehat OIAA Pusat sekaligus nara sumber pelatihan, Ibrahim Sholah Al-Hudhud mengungkapkan hal serupa bahwa dirinya mengapresiasi presentasi para peserta pelatihan tentang berbagai persoalan keumatan.

Beliau berharap, para peserta menjadi duta untuk menyampaikan pesan Al-Azhar ke seluruh penjuru dunia, terutama di negara tempat mereka berdomisili, baik di timur maupun barat. Bahkan beliau membuka peluang kepada para peserta untuk berdiskusi dan berkonsultasi langsung kepadanya, manakala ada masalah-masalah yang dihadapi, terutama berkaitan dengan tema-tema yang telah disampaikan.

“Saya menyambut baik presentasi para peserta. Saya berharap kalian menjadi duta Al-Azhar. Jika ada yang perlu didiskusikan, maka boleh menghubungi saya langsung," kata mantan Rektor Universitas Al-Azhar dan penasihat OIAA Pusat tersebut.

Sementara itu, Ketua OIAA Cabang Indonesia, TGB M Zainul Majdi dan Sekjen OIAA Indonesia Muchlis M Hanafi, Muhammad Arifin MA menyampaikan terima kasih tak terhingga kepada Grand Shaikh Al-Azhar dan jajaran pimpinan di OIAA Pusat atas kepercayaannya menyelenggarakan pelatihan online pertama bagi tenaga-tenaga dakwah Indonesia. Adapun pesertanya tidak terbatas hanya dari kalangan alumni Al-Azhar saja, tetapi juga dari latar belakang perguruan tinggi dan wilayah di Indonesia yang berbeda. Beliau berharap pelatihan ini terus berlanjut dengan jumlah peserta yang lebih banyak lagi.

“Saya atas nama ketua dan sekjend OIAA cabang Indonesia mengucapkan terima kasih kepada Syaikh Al-Azhar dan OIAA Pusat atas kepercayaan kepada kami untuk menyelenggarakan acara perdana ini. Kami berharap, program ini terus berlanjut dengan jumlah peserta lebih banyak,” harap Muhammad Arifin yang juga bendahara OIAA cabang Indonesia itu.

Lebih Muhammad Arifin, selama pelatihan, baik nara sumber maupun peserta menunjukkan keseriusan luar biasa yang ditunjukkan dengan banyak dan panjangnya diskusi setiap sesi. Apalagi jika tema yang dibahas memang merupakan tema yang relatif sensitif seperti konsep Jahiliyah, konsep hakimiyah, pola pikir dan gerakan kelompok-kelompok keras semacam ISIS dan sebagainya.

Di hari terakhir, katanya, tema yang dibahas juga tidak kalah pentingnya menyangkut soal isu pernikahan: poligami, nikah siri, nikah dengan niat talak dan sebagainya yang tidak jarang kita temukan di tengah masyarakat.

Salah satu moderator pelatihan Mahir M Soleh, Lc., menceritakan bahwa daurah ini sangat mengayakan khazanah pemikiran para peserta. Sebab para pematerinya para Ulama Al-Azhar yang pakar di bidangnga masing-masing.

Yang paling berkesan di hati CEO Nurul Huda Foundation Bengkulu dan alumnus Universitas Al-Azhar Zagazig Fakultas Ushuluddin itu adalah saat program pelatihan masih berlangsung Prof Dr Abdel Fadil Al-Qushy wafat.

“Saat daurah berjalan, salah satu Mahaguru kami, Prof Dr Abdel Fadil Al-Qushy dipanggil oleh Allah SWT meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Saya dan teman-teman merasakan kesedihan yang teramat mendalam. Semoga Allah SWT menempatkan beliau di sisi-Nya bersama Para Anbiya, Syuhada wa Shalihin. Wa hasuna ulaika rafiqa," harap Mahir M Soleh. pr2