Pertemuan OIAA Indonesia-MDN Malaysia, Sepakat Bahas Persoalan Umat dan Bangsa
Cari Berita

Advertisement

target='_blank' title='Settia Blog'>settia

Pertemuan OIAA Indonesia-MDN Malaysia, Sepakat Bahas Persoalan Umat dan Bangsa

Selasa, 11 Februari 2020


JAKARTA, PARASRIAU.COM - Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia, Dr. TGB M. Zainul Majdi, Lc, MAbeserta pengurus, Selasa (11/2) menerima kunjungan kehormatan (cortesy visit) rombongan Majlis Dakwah Negara (MDN) Malaysia yang dipimpin Prof. Emeritus Dato’ Dr. Mahmood Zuhdi Ab Majid.


Pertemuan dua organisasi non-pemerintah ini, selain bertujuan untuk silaturahim juga untuk mendiskusikan sejumlah persoalan keumatan dan kebangsaan yang dihadapi kedua bangsa bertetangga. Sekaligus mengagas pemberdayaan umat di kedua negara tersebut.


Ketua OIAA Indonesia, Dr. TGB M. Zainul Majdi menyampaikan, dua hal pokok yang selalu dipesankan Pemimpin Tertinggi Al-Azhar, Prof. Dr. Ahmed Al-Tayeb, Syaikh Al-Azhar yang juga Ketua World Organization of Al-Azhar Graduates (WOAG) kepada OIAA Indonesia. Pertama, agar alumni Al-Azhar terus berupaya mengokohkan moderasi Islam (wasathiyyah al-Islâm). Kedua, agar alumni Al-Azhar memastikan pemahaman akidahnya adalah akidah Asy’ariyah- Maturidiyah, fikihnya adalah fikih empat mazhab dan tasawufnya adalah tasawuf yang dikembangkan Imam Al-Junaid, Asy-Syadzili, Imam Ghazali dan ulama lain yang senapas.

“Pertama, saya ingin menyampaikan pesan Grand Syaikh Al-Azhar bahwa kita harus mengokohkan wasathiyyaat al-Islam. Kedua memastikan bahwa akidah, fikih dan tasawuf kita sesuai dengan manhaj al-Azhar,” jelas doktor tafsir alumnus Universitas Al-Azhar itu.

TGB juga menyinggung dan mengenalkan Pusat Studi Islam dan Bahasa Arab (PUSIBA) dan kegiatannya kepada delegasi. PUSIBA, selain sebagai Lembaga Bahasa untuk persiapan mahasiswa Al-Azhar Mesir, juga sebagai Lembaga untuk mengokohkan wasathiyyat al-Islam dan manhaj al-Azhar.

“PUSIBA, bukan hanya untuk mempersiapkan Bahasa calon mahasiswa kuliah di Al-Azhar, melainkan juga untuk mengokohkan moderasi Islam dan manhaj al-Azhar,” imbuh TGB di hadapan rombongan MDN dan pengurus OIAA cabang Indonesia yang hadir.

Sementara itu, Prof. Mahmood Zuhdi menyampaikan bahwa umat Islam dan bangsa Melayu di kedua negara bertetangga ini sangat besar. Umat Islam di kedua negara, bahkan merupakan yang terbesar di seluruh dunia Islam dari segi jumlah populasinya.

Secara khusus, Indonesia bahkan pernah memiliki posisi sangat penting sebagai bangsa yang besar dan dikagumi dunia dengan keberhasilannya menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada 1955 pada era Presiden Sukarno. Kemudian melahirkan Gerakan Non Blok (GNB).

Tetapi, menurutnya, lebih dari 60 tahun setelah Indonesia dan Malaysia merdeka dari penjajahan, bangsa Melayu dan umat Islam di kedua negara bertetangga itu belum menikmati kesejahteraan ekonomi yang menggembirakan.

“Karena itu, kita perlu terus-menerus memikirkan langkah-langkah strategis untuk kemajuan umat dan bangsa kita,” harap profesor pimpinan lembaga yang peduli terhadap isu-isu pemberdayaan umat Islam dan bangsa Melayu di tanah Nusantara.

Diskusi berlangsung akrab dan hangat. TGB mengakui bahwa ada kemiripan persoalan yang dihadapi umat Islam di kedua negara.

“Di Indonesia beberapa elemen umat mencoba melakukan jihad konstitusi untuk mengatasi persoalan ekonomi umat. Seperti yang dilakukan Muhammadiyah dan beberapa diantaranya membuahkan hasil yang cukup baik," jelas TGB.

OIAA cabang Indonesia menyambut gembira gagasan-gagasan dalam pertemuan yang berlangsung kurang lebih satu jam setengah itu. Dan berencana akan mengadakan kunjungan balasan OIAA cabang Indonesia ke MDN Malaysia dalam waktu dekat ini.

Dalam pertemuan itu, TGB didampingi Ikhwanul Kiram (Wakil Ketua), Dr. Muchlis M Hanafi (Sekjend), Muhammad Arifin, MA (Bendahara), Dr. Willy Octaviano (Wakil Sekjen) dan Nanang Firdaus, Lc.

Selain ke kantor OIAA cabang Indonesia, sebelumnya Pengurus MDN yang beranggotakan sepuluh orang itu, juga melakukan kunjungan ke kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan mendiskusikan persoalan Palestina. rls

editor: M Ikhwan,Lc,MA