Kenaikan Biaya Sekolah Picu Inflasi Paling Tinggi
Cari Berita

Advertisement

settia

Kenaikan Biaya Sekolah Picu Inflasi Paling Tinggi

Selasa, 03 September 2019


JAKARTA, PARASRIAU.COM - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pada Agustus 2019 mengalami inflasi sebesar 0,12%. Inflasi tertinggi terjadi pada kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 1,21%. Sebaliknya, kelompok bahan makanan mengalami deflasi sebesar 0,19% pada Agustus 2019.

Dari 82 kota indeks harga konsumen (IHK), 44 kota mengalami inflasi dan 38 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kudus sebesar 0,82% dan terendah terjadi di Tasikmalaya, Madiun, dan Parepare masing-masing sebesar 0,04%.

Sementara deflasi tertinggi terjadi di Bau-Bau sebesar 2,10% dan terendah terjadi di Tegal dan Palopo masing-masing sebesar 0,02%. “Inflasi Agustus sebesar 0,12%, penyebab utamanya harga cabai merah, cabai rawit, dan emas perhiasan. Ada juga komoditas yang menyebabkan deflasi, yaitu harga bawang merah, tomat sayur, dan bawang putih,” ujar Kepala BPS Suhariyanto di Jakarta, kemarin.

Kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga mengalami inflasi sebesar 1,21% dan memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,09%. Kenaikan biaya sekolah dominan memberikan sumbangan inflasi, yaitu uang sekolah SD sebesar 0,04%, uang sekolah SMP dan uang sekolah SMA masing-masing sebesar 0,02%, uang kuliah akademi/perguruan tinggi sebesar 0,01%. “Penyebabnya karena adanya kenaikan uang sekolah. Juli-Agustus biasanya inflasi karena kenaikan biaya pendidikan,” tuturnya.

Suhariyanto memaparkan, kelompok bahan makanan mengalami deflasi sebesar 0,19% dan memberikan sumbangan deflasi sebesar 0,06%. Deflasi bahan makanan disumbang oleh bawang merah karena sedang musim panen raya di berbagai sentra produksi bawang merah seperti di Bima, Pati, Nganjuk, dan Brebes.

“Andil bawang merah terhadap deflasi sebesar 0,08%. Kemudian andil deflasi juga karena penurunan harga tomat sayur dengan andil 0,06%, bayam dan bawang putih masing-masing sebesar 0,02%, dan juga daging ayam ras dan komoditas sayuran dan buah-buahan,” paparnya.

Meski begitu, ada sejumlah komoditas yang tetap harus diwaspadai karena memberikan sumbangan inflasi seperti cabai merah sebesar 0,1%, cabai rawit sebesar 0,07%, ikan segar dan kentang masing-masing sebesar 0,01%.

Deflasi juga terjadi pada kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,55% dengan andil 0,1%. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan deflasi, yaitu tarif angkutan udara sebesar 0,11%. “Kebijakan pemerintah untuk menurunkan tarif batas atas untuk jam keberangkatan tertentu membuat harga tiket pesawat menjadi turun,” kata Suhariyanto.

Adapun tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Agustus) 2019 sebesar 2,48% dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Agustus 2019 terhadap Agustus 2018) sebesar 3,49%. “Daya beli masyarakat masih bagus mengingat secara tahunan inflasi inti masih di atas 3%, yaitu 3,3%,” tandasnya.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan, inflasi Agustus yang sebesar 0,12% dinilai cukup terkendali. Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) sejauh ini mampu menjaga agar inflasi tetap stabil di level yang cukup rendah, yaitu di kisaran 3,5%.

“Saya kira sampai akhir tahun tingkat inflasi masih akan berada dalam range target pemerintah dan BI, yaitu 3,5% plus minus 1. Dengan inflasi yang cukup rendah ini maka daya beli masyarakat akan cukup terjaga,” ujarnya.

Meski begitu, lanjut Piter, masih ada tantangan ke depan agar inflasi bisa tetap berada di kisaran ini di tengah permasalahan sempitnya ruang fiskal. Salah satunya beban subsidi energi yang begitu besar.

“Dengan beban subsidi energi yang begitu besar maka ruang fiskal menjadi sempit. Sehingga pemerintah tidak bisa memacu belanja modal yang dibutuhkan untuk pertumbuhan ekonomi,” tuturnya. 

Sementara mengurangi subsidi akan berdampak pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang secara dampaknya terhadap inflasi sangat besar. “Ini tantangan utama pemerintah untuk mengupayakan tidak mengurangi subsidi energi guna tetap menahan inflasi yang rendah,” tandasnya.

Kunjungan Wisman Meningkat
Sementara itu jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia Juli 2019 mencapai 1,48 juta kunjungan. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, jika dibandingkan dengan Juni 2019, jumlah kunjungan wisman pada Juli 2019 mengalami kenaikan sebesar 2,04%. Sementara jika dibandingkan pada Juli 2018 mengalami penurunan sebesar 4,10%. “Kenaikan ini karena pada bulan Juli merupakan musim liburan sekolah di Amerika, Australia, dan Eropa,” ujar Suhariyanto.

Secara kumulatif (Januari–Juli 2019), jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 9,31 juta kunjungan atau naik 2,63% dibandingkan dengan jumlah kunjungan wisman pada periode yang sama 2018 yang berjumlah 9,07 juta kunjungan.

Jumlah kunjungan wisman ini terdiri atas wisman yang berkunjung melalui pintu masuk udara sebanyak 5,50 juta kunjungan, pintu masuk laut sebanyak 2,43 juta kunjungan, dan pintu masuk darat sebanyak 1,38 juta kunjungan.

Suhariyanto melanjutkan, jika dibanding dengan kunjungan pada Juni 2019, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia yang melalui pintu masuk udara pada Juli 2019 mengalami kenaikan sebesar 17,45%. “Peningkatan terbesar terjadi di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta sebesar 57,57% dan Bandara Husein Sastranegara Bandung sebesar 44,18%,” tuturnya.***

dilansir: sindonews.com