Kabut Asap Indonesia Sebabkan Udara di Singapura Memburuk
Cari Berita

Advertisement

settia

Kabut Asap Indonesia Sebabkan Udara di Singapura Memburuk

Minggu, 15 September 2019



SINGAPURA,PARASRIAU.COM - Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, kualitas udara di negara Singapura memburuk ke tingkat 'tidak sehat' pada Sabtu (14/9) kemarin. Menurut data dari Badan Lingkungan Nasional (NEA) Singapura hal ini dapat memperdalam perselisihan regional mengenai kebakaran hutan di Indonesia.

Setiap musim kemarau, asap dari api membakar lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan pulp dan kertas di Indonesia menutupi sebagian besar wilayah. Hal ini meningkatkan kekhawatiran tentang kesehatan masyarakat dan berpengaruh pada operator wisata dan maskapai penerbangan.

Indeks Standar Polusi 24 jam yang digunakan Singapura sebagai patokan, berada di kisaran 87-106 pada Sabtu sore. Angka di atas 100 dianggap tidak sehat. Ini adalah pertama kalinya acuan 24 jam menembus 100 sejak Agustus 2016, data menunjukkan.

"Ada kemunduran dalam kondisi kabut asap di Singapura sore ini. Ini karena pertemuan angin di wilayah terdekat yang menyebabkan lebih banyak kabut asap dari Sumatra diterbangkan ke Singapura," dikutip dari Reuters, Ahad (15/9).

Banyak orang memilih untuk tetap tinggal di dalam rumah pada Sabtu ketika kabut kelabu menyelimuti kota.  Malaysia menutup ratusan sekolah dan mengirim setengah juta masker wajah ke Sarawak minggu ini, setelah asap naik ke tingkat yang tidak sehat. Kualitas udara di kota-kota Indonesia yang paling dekat dengan kebakaran telah meningkat ke tingkat yang berbahaya. Pada hari Rabu, ribuan masyarakat mengadakan doa massal Islam untuk hujan.

Malaysia mengatakan pekan ini bahwa Perdana Menteri Mahathir Mohamad akan menulis surat kepada pemimpin Indonesia untuk menyampaikan keprihatinannya tentang kabut lintas batas. Indonesia menolak keluhan Malaysia, dengan mengatakan kobaran api juga berkobar di beberapa bagian Malaysia.

Singapura, yang membanggakan diri karena udara bersihnya, mengesahkan undang-undang polusi udara lintas batas pada tahun 2014 yang membuat mereka yang menyebabkan kabut asap bertanggung jawab secara pidana dan sipil. Akhir pekan depan adalah balap mobil Grand Prix Formula One Singapura, sebuah acara besar yang menarik perhatian dunia ke negara tujuan wisata tersebut. 

4 Penerbangan di Pekanbaru Sempat Terganggu
Kabut asap sempat mengganggu penerbangan di Pekanbaru, Riau. Setidaknya ada empat pesawat yang proses pendaratannya tertunda akibat faktor jarak pandang.

Executive General Manager (EGM) Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Yogi Prasetyo mengatakan, keempat pesawat tersebut sudah berhasil mendarat. Puncak gangguan kabut asap itu, lanjut dia, terjadi sekitar pukul 08.00 WIB pagi tadi.

"Tadi pagi jam 8-an. Ada empat penerbangan (terganggu), tapi setelah itu mendarat, (tertahan) sekitar 30 menitan. Tertunda aja, tapi setelah itu pesawat normal lagi," ungkap Yogi saat dihubungi, Jumat 13 September 2019. 

Dia menuturkan, keempat pesawat yang sempat tertunda mendarat itu adalah pesawat komersial. Terkait kondisi penerbangan terkini, dia menyebutkan, sudah kembali normal karena gangguan kabut asap itu cenderung fluktuatif. "Kondisi penerbangan sekarang jam 1 ini masih sesuai, normal, pesawat take off, landing masih bisa, karena memang sifatnya fluktuatif. Sejauh ini penerbangan masih normal," katanya.

Dia juga menuturkan, selalu berkoordinasi dengan pihak AirNav terkait jarak pandang. Meskipun saat ini sudah normal, pihak bandara tetap mengimbau pilot untuk tetap hati-hati. "Sekarang normal. Walaupun demikian, kami imbau kepada pilot untuk hati-hati. Karena yang diutamakan keamanan dan keselamatan," tutupnya.*** 

dilansir dari berbagai sumber